Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Kementan dan Pemda Bali Periksa Babi yang Akan Dikonsumsi

Kamis 13 Feb 2020 19:37 WIB

Red: Hiru Muhammad

Tampak seorang petugas dengan berdialog dengan peternak babi.

Tampak seorang petugas dengan berdialog dengan peternak babi.

Foto: Dok Istimewa
Petugas akan dikerahkan agar pengolahan daging babi dilakukan dengan benar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) bersama Pemerintah Daerah Provinsi Bali meminta agar babi yang akan dipotong untuk Hari Raya Galungan dan Kuningan diperiksa  petugas kesehatan hewan. 

Menurut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, Kamis (13/2) setiap perayaan Galungan dan Kuningan, masyarakat Bali memiliki tradisi memotong babi secara massal dan gotong royong untuk upacara keagamaan dan konsumsi.

Hal ini apabila tidak diawasi  petugas kesehatan hewan akan berpotensi menyebarkan penyakit. "Ini merupakan upaya Pemerintah dalam mencegah penyebaran kasus kematian babi yang sudah terjadi di Bali dalam 1 bulan terakhir," katanya. 

Ketut juga menyampaikan agar masyarakat Bali tidak perlu takut untuk mengonsumsi daging babi, karena petugas kesehatan hewan akan dikerahkan untuk memberikan penjaminan kesehatan hewan bagi babi yang akan dilalulintaskan dan dipotong.  Sebelumnya dilaporkan  kasus kematian babi dalam 1 (satu) bulan terakhir telah ditemukan di beberapa lokasi peternakan di wilayah Kabupaten dan Kota Denpasar, Badung, Tabanan, dan Gianyar. 

IKG Nata Kesuma, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Provinsi Bali, menyampaikan bahwa saat ini tercatat jumlah kematian babi total sebanyak 898 ekor.

Ia memastikan setiap laporan kasus sakit atau kematian babi yang diterima diinvestigasi tim gabungan petugas dari dinas provinsi, kabupaten kota, dan Balai Besar Veteriner Denpasar.  "Data angka kematian ini merupakan hasil pencatatan petugas kami langsung dari lapang," tambahnya.

Nata juga menjelaskan pada saat ini, kasus kematian babi yang sudah terjadi tidak mengganggu supply babi dan daging babi untuk Bali.  "Bali memiliki total populasi babi lebih dari 800 ribu ekor, jumlah ini sangat besar. Jadi kematian babi sebulan terakhir tidak mengganggu ketersediaan dan suplai babi di Bali," katanya. 

Sejalan dengan Dirjen PKH, Nata menyampaikan pentingnya pemeriksaan sebelum (ante mortem) dan setelah pemotongan (post mortem). Babi yang akan dilalulintaskan juga wajib dinyatakan sehat oleh dokter hewan. 

"Ini merupakan bentuk penjaminan dari pemerintah, untuk memastikan kesehatan babi yang akan dilalulintaskan dan dipotong," katanya. Nata juga menjelaskan pihaknya akan menggerakan setiap petugas untuk meningkatkan sosialisasi dalam memastikan pengolahan daging babi oleh masyarakat dilakukan sampai benar-benar matang. 

"Saya juga mengimbau agar masyarakat tidak memberikan sisa daging babi atau limbah sisa pemotongan sebagai pakan babi untuk mencegah penyebaran penyakit," katanya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA