Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Pakar Ingatkan Perlunya Pengembangan Budi Daya Bawang Putih

Kamis 13 Feb 2020 09:50 WIB

Red: Friska Yolanda

Pedagang menumpukan bawang putih impor dari Cina di Pasar Induk Lambaro, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (11/2/2020)

Pedagang menumpukan bawang putih impor dari Cina di Pasar Induk Lambaro, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (11/2/2020)

Foto: Antara/Ampelsa
Peningkatan produktivitas bawang putih dapat kurangi ketergantungan terhadap impor.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Loekas Soesanto mengingatkan perlunya mengembangkan budi daya bawang putih secara optimal di Tanah Air. Hal ini bertujuan agar bawang putih tak terus bergantung dari impor.

Baca Juga

"Budi daya bawang putih perlu dioptimalkan guna meningkatkan produksi bawang putih di Tanah Air," kata Loekas Soesanto di Purwokerto, Kamis (13/2).

Dia mengatakan pemerintah perlu menggalakkan penanaman bawang putih di berbagai wilayah di Indonesia. "Galakkan penanaman bawang putih di berbagai wilayah, tentunya wilayah yang sesuai, selain itu bisa juga dengan memanfaatkan lahan marginal," katanya.

Menurut dia, dengan meningkatkan produktivitas bawang putih di Tanah Air maka diharapkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor komoditas tersebut. Selain itu, kata dia, pemerintah perlu terus meningkatkan sosialisasi yang berkesinambungan kepada para petani.

"Jika lahan yang tersedia sesuai dan didukung benih serta sarana produksi, maka budi daya bawang putih di Tanah Air akan dapat berkembang dengan baik," katanya.

Seperti diwartakan sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo meminta masyarakat untuk tidak panik dalam menyikapi keberadaan bawang putih di pasaran. Ia menegaskan stok nasional masih mencukupi untuk dua sampai tiga bulan ke depan.

Merebaknya kelangkaan bawang putih di sejumlah daerah di Tanah Air dan mengakibatkan harganya melambung tinggi, kata Mentan, seharusnya tidak sampai terjadi. Ia menjelaskan sebenarnya potensi (stok) yang dimiliki cukup untuk bertahan dua sampai tiga bulan ke depan, tanpa impor.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA