Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Gizi Buruk dan Stunting Masih Jadi PR Berat Indonesia

Selasa 21 Jan 2020 22:25 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Anak usia pertumbuhan (Ilustrasi). Pemerintah perlu segera menuntaskan berbagai persoalan gizi buruk dan stunting atau kekerdilan di Tanah Air.

Anak usia pertumbuhan (Ilustrasi). Pemerintah perlu segera menuntaskan berbagai persoalan gizi buruk dan stunting atau kekerdilan di Tanah Air.

Foto: Republika/Dwi Murdaningsih
Pemerintah perlu segera menuntaskan persoalan gizi buruk dan stunting di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Ali Khomsan menilai pemerintah perlu segera menuntaskan berbagai persoalan gizi buruk dan stunting atau kekerdilan di Tanah Air. Kawasan timur Indonesia perlu mendapat perhatian lebih.

"Kalau dilihat memang provinsi di wilayah timur Indonesia itu pekerjaan rumahnya lebih berat," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Ali mengatakan, saat ini masih banyak provinsi yang angka stunting-nya di atas rata-rata nasional, bahkan di atas 40 persen. Hal itu bisa saja disebabkan oleh ketimpangan kesejahteraan atau akses layanan kesehatan yang masih kurang.

Baca Juga

Berbagai aspek itu harus segera diselesaikan pemerintah agar sumber daya manusia Indonesia lebih baik lagi. Sementara itu, di wilayah barat yang relatif agak kurang adalah daerah istimewa Aceh.

"Itu angkanya masih kurang menggembirakan," kata Guru Besar bidang Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB tersebut.

Ali mengungkapkan, untuk Pulau Jawa, angka gizi buruk dan stunting relatif jauh lebih baik dari daerah-daerah lainnya. Secara umum, ia mengatakan problem stunting masih dihadapi sepertiga dari anak-anak balita di Indonesia.

Gizi kurang atau gizi buruk, menurut Ali, berkisar antara 15 sampai 20 pesen. Ia mengatakan, ditambah angka stunting Indonesia masih 30,8 persen, tentunya butuh kerja keras untuk menanganinya.

Dunia internasional melalui World Health Organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia telah menetapkan batasan maksimal angka stunting, yaitu 20 persen. Di lain sisi, Indonesia sudah menyentuh angka 30 persen.

Belum lagi angka anemia pada ibu hamil di Indonesia masih di atas 40 persen dan termasuk kategori tinggi. Ali berharap berbagai program yang telah dilakukan oleh pemerintah mampu menurunkan angka stunting tadi menjadi 19 persen pada 2023 dan 2024.

"Semua persoalan itu harus segera diselesaikan karena anemia dan stunting kaitannya dengan sumber daya manusia kita," ujar dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA