Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Muhammadiyah-Kemenlu Berjuang untuk Moderasi

Kamis 13 Feb 2020 06:42 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Hafil

Menlu Temui Ketum PP Muhammadiyah. Menlu Retno Marsudi (tiga kiri) bersama Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saati pertemuan tertutup di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Rabu (12/2).

Menlu Temui Ketum PP Muhammadiyah. Menlu Retno Marsudi (tiga kiri) bersama Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saati pertemuan tertutup di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Rabu (12/2).

Foto: Wihdan Hidayat/ Republika
Muhammadiyah selama lima tahun terakhir sudah melakukan internasionalisasi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, ke PP Muhammadiyah tidak cuma membahas Palestina. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir mengungkapkan, mereka turut membahas rencana internasionalisasi moderasi dan modernitas Islam.

"Kami membicarakan apa yang kita sebut dengan perjuangan Indonesia untuk moderasi dan modernitas Islam di tingkat dunia," kata Haedar di Kantor PP Muhammadiyah, Rabu (12/2).

Ia menekankan, Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Lalu, Menteri Retno disebut sangat perhatian terhadap Islam moderat dan modern, yang mana memiliki alam pikiran yang sama dengan Muhammadiyah.

Haedar menuturkan, Muhammadiyah selama lima tahun terakhir sudah melakukan internasionalisasi lewat program-program. Salah satunya berjuang mendapat izin membangun sekolah dan perguruan tinggi di Australia dan Malaysia.

Tapi, ia menegaskan, poin pentingnya tidak cuma sekadar pembangunan lembaga pendidikan. Ada pesan Indonesia sebagai negara besar bersahabat dengan Australia dan ASEAN, keduanya tidak bisa lepas dan Indonesia bukan ancaman.

"Kita menjadi satu kekuatan yang bisa bersama membangun peradaban ketika dunia tersekat sekat kecenderungan politik regional dan lokal, atau kepentingan politik negara masing-masing," ujar Haedar.

Lalu, ada kepentingan Islam yang lahir dari Indonesia yang mayoritas moderat tidak cuma hanya dijadikan isu keagamaan atau Islam rahmatan lil alamin. Harus ada program-program strategi internasionalisasi Islam moderat.

"Kami, Muhammadiyah, lewat sekolah dan membangun Community Center di Australia dan ASEAN," kata Haedar.

Kepentingannya, lanjut Haedar, di tengah-tengah politik global yang mengeras, ancaman terhadap perdamaian dan kerusakan iklim, kita membangun peradigma baru. Artinya, multikulturalisme harus dikerjakan setiap bangsa dan negara.

Menurut Haedar, Muhammadiyah menjadi kekuatan yang terpanggil memperluas area Islam dan Indonesia yang moderat dan modern ke kancah dunia. Ini memperoleh sambutan positif, dan Kemenlu akan membantu memperluas gerakan tersebut.

Ia berharap, Indonesia, termasuk Presiden, bisa memainkan peran artikulatif Indonesia sebagai negara besar. Kunjungan Presiden ke Australia diharap bisa meningkatkan posisi Indonesia yang memainkan prean poraktif untuk perdamaian dan kemajuan dunia.

"Maka, Islam yang moderat dan Indonesia yang moderat menanamkan nilai-nilai moderasi di seluruh dunia, ketika ada kecenderungan banyak hal yang cenderung ekstrim. Dan, kita ingin dunia makin maju bersama, itulah modernitas," ujar Haedar. 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA