Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Lahan di Indramayu tak Cocok untuk Tanaman Bawang Putih

Rabu 12 Feb 2020 17:23 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Andi Nur Aminah

Hamparan tanaman bawang putih (ilustrasi)

Hamparan tanaman bawang putih (ilustrasi)

Foto: Humas Kementan.
Indramayu terletak di dataran rendah sehingga tak cocok untuk tanaman bawang putih.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Para petani di Kabupaten Indramayu hingga kini tak ada yang mengembangkan budidaya tanaman bawang putih. Padahal, produksi bawang putih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan komoditas tersebut di tengah harganya yang kini melambung di pasaran. "Di Indramayu tidak ada tanaman bawang putih," ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, Takmid, Rabu (12/2).

Baca Juga

Menurut Takmid, secara geografis Kabupaten Indramayu terletak di dataran rendah. Karenanya, daerah tersebut tidak cocok untuk tanaman bawang putih.

Di Kabupaten Indramayu, sebagian besar petaninya menanam tanaman padi. Bahkan, daerah itu menjadi salah satu lumbung pangan nasional karena produksi padinya yang berlimpah.

Selain padi, petani di sejumlah daerah di Kabupaten Indramayu juga menanam bawang merah dan sayuran lainnya, seperti cabai merah. Adapula berbagai palawija dan buah-buahan, seperti mangga, semangka, terong dan kacang panjang.

Hal senada diungkapkan Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang. Dia mengatakan, sepengetahuannya, dari dulu hingga sekarang tidak ada petani di Kabupaten Indramayu yang menanam tanaman bawang putih. "Ada juga bawang merah. Kalau bawang putih tidak ada," tutur Sutatang.

Seperti diketahui, harga bawang putih di berbagai daerah mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir, termasuk di Kabupaten Indramayu. Hal itu diduga terjadi kurangnya pasokan.

Berdasarkan pantauan Republika.co.id di Pasar Baru Indramayu, Senin (10/2), harga bawang putih mencapai Rp 55 ribu per kg. Meski sedikit turun dibandingkan sepekan sebelumnya yang mencapai Rp 60 ribu per kg, namun harga itu dinilai belum normal. "Harganya masih tinggi," kata seorang pedagang di pasar tersebut, Opik.

Opik mengatakan, naiknya harga itu sudah terjadi di tingkat distributornya. Dia memperkirakan, harga saat ini sedikit turun seiring dengan pasokannya yang mulai bertambah. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA