Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Inggris: Perusahaan Medsos Harus Tanggung Jawab atas Konten

Rabu 12 Feb 2020 15:36 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Aplikasi media sosial di ponsel pintar (Ilustrasi)

Aplikasi media sosial di ponsel pintar (Ilustrasi)

Foto: VOA
Inggris memastikan perusahaan medsos melindungi dari konten menyakitkan.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Regulator telekomunikasi Inggris (Ofcom) ingin memastikan perusahaan-perusahaan media sosial seperti Facebook dan Twitter bertanggung jawab atas konten menyakitkan di teknologi mereka.  

Baca Juga

"Banyak platform yang tidak ingin regulasi tapi saya pikir sekarang sudah berubah, saya pikir sekarang mereka memahami regulasi sebenarnya akan segera datang," kata Menteri Media, Budaya dan Olahraga Nicky Morgan, di BBC, Rabu (12/2).  

BBC melaporkan hingga saat ini Facebook, Tiktok, Youtube, Snapchat, dan Twitter masih mengatur diri mereka sendiri. Perusahaan-perusahaan itu selalu membela langkah tersebut dengan mengatakan mereka menghapus konten-konten yang tidak dapat diterima.

Belum diketahui apa sanksi yang akan diberikan Ofcom dalam menegakkan aturan menghapus konten-konten kekerasan, perundungan siber, dan pelecehan terhadap anak. Publik semakin mendesak agar perusahaan media sosial lebih bertanggung jawab atas konten yang ada di platform mereka.

Hal itu terutama setelah kasus Molly Russell yang bunuh diri usai melihat konten di Instagram. Pada Rabu ini, Inggris memperkuat wewenang Ofcom untuk memastikan perusahaan-perusahaan teknologi bertanggung jawab dalam melindungi masyarakat dari konten yang menyakitkan seperti kekerasan, terorisme, perundungan siber, dan pelecehan terhadap anak. Mereka juga memastikan agar perusahaan-perusahaan media sosial segera menghapus konten-konten tersebut.

Ofcom sudah mengatur stasiun radio dan televisi termasuk BBC. Penguatan wewenang Ofcom ini sebagai respons pemerintah Inggris atas konsultasi Online Harms tahun 2019 yang mendapatkan 2.500 tanggapan. Aturan baru akan diterapkan pada perusahaan yang memberikan layanan user generated-content atau konten yang disebarkan pengguna, seperti media sosial Facebook, Snapchat, Twitter, Youtube dan Tiktok.  

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA