Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Kapal Tenggelam, 15 Pengungsi Rohingya Meninggal Dunia

Rabu 12 Feb 2020 09:20 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolanda

Orang-orang mengelilingi jenazah warga Rohingya yang meninggal dunia dalam peristiwa kapal tenggelam di lepas pantai Bangladesh, Selasa (11/2). Kapal tersebut sedang dalam perjalanan menuju Malaysia.

Orang-orang mengelilingi jenazah warga Rohingya yang meninggal dunia dalam peristiwa kapal tenggelam di lepas pantai Bangladesh, Selasa (11/2). Kapal tersebut sedang dalam perjalanan menuju Malaysia.

Foto: Joynal Abedin via AP
Kapal tersebut tengah menuju Malaysia.

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Setidaknya 15 pengungsi Rohingya meninggal dunia, dan puluhan lainnya berdesakan di kapal kayu yang mereka tumpangi. Kapal tersebut tenggelam di lepas pantai Bangladesh ketika mereka hendak menuju Malaysia.

Juru Bicara Penjaga Pantai, Hamidul Islam mengatakan, sekitar 130 orang, yang kebanyakan wanita dan anak-anak berada di kapal pukat nelayan. Mereka berupaya menyeberangi Teluk Bengal ke Malaysia. Sementara 70 orang lainnya sejauh ini telah diselamatkan.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengeluarkan pernyataan bersama. Keduanya mengatakan, siap mendukung para penyintas kapal.

"UNHCR dan IOM berduka dengan kematian yang tragis ini dan, bersama dengan mitra PBB dan LSM kami lainnya, berdiri untuk menawarkan bantuan kepada pemerintah (Bangladesh) dalam menanggapi kebutuhan para penyintas, baik itu makanan, tempat tinggal, atau bantuan medis," demikian penyataan tersebut dikutip Aljazirah, Selasa (11/2)

Kapal yang ditumpangi para pengingsi memiliki panjang 13 meter yang merupakan salah satu kapal dari dua kapal yang berupaya menempuh perjalanan 2.000 kilometer yang dinilai sangat berbahaya sebelum musim hujan dimulai. Empat kapal angkatan laut, dan penjaga pantai kemudian sedang menelusuri lautan di dekat pulau St. Martin guna mencari apakah ada korban lain.

"Kami telah menemukan satu kapal terbalik. Semuanya terutama dari kamp-kamp pengungsi di Cox's Bazar. Kami belum menemukan tanda-tanda kapal kedua. Kami akan melanjutkan operasi kami," kata Islam. Orang-orang yang berada di kapal itu berharap mencapai Malaysia dan dibantu oleh para penyelundup.

Ratusan dari hampir satu juta orang Rohingya mencoba pergi ke Malaysia dengan kapal. Para pengungsi tersebut telah lama berlindung di kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak di Cox's Bazar, Bangladesh.

Malaysia adalah tujuan favorit pengungsi Rohingya sebab selain negara mayoritas Muslim, Malaysia juga memiliki diaspora Rohingya yang cukup besar. Dengan sedikit peluang untuk pekerjaan dan pendidikan di kamp-kamp itu, ribuan orang telah berupaya menjangkau negara-negara lain di Asia Tenggara.

Sejak tahun lalu, lembaga penegak hukum Bangladesh telah mengamankan lebih dari 500 orang Rohingya dari desa-desa pesisir dan kapal-kapal ketika mereka menunggu untuk naik kapal. Paling tidak tujuh tersangka pelaku perdagangan orang ditembak mati pada 2019 dalam bentrokan dengan polisi.

Perdagangan orang sering meningkat selama periode November-Maret ketika laut paling aman untuk kapal pukat ikan yang digunakan dalam perjalanan berisiko. Diperkirakan 25 ribu orang Rohingya meninggalkan Bangladesh dan Myanmar dengan kapal pada tahun 2015 untuk mencapai Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Ratusan orang meninggal ketika kapal yang kelebihan muatan tenggelam.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA