Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

BMKG: Waspada Potensi Bencana Akibat Hujan Lebat di Sumsel

Selasa 11 Feb 2020 13:11 WIB

Rep: Mimi Kartika/ Red: Andi Nur Aminah

Angin kencang. Ilustrasi

Angin kencang. Ilustrasi

Ini berdampak pada potensi adanya bencana hidrometeorologi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan terjadi peningkatan dan kontinuitas curah hujan di wilayah Sumatra Selatan (Sumsel). Dengan demikian, berdampak pada potensi adanya bencana hidrometeorologi seperti banjir/genangan, banjir bandang, tanah longsor, serta angin kencang/puting beliung.

"Berdasarkan kondisi regional dan lokal ini akan menyebabkan peningkatan dan kontinuitas (terus menerus) curah hujan di wilayah Sumsel bagian barat yakni pada wilayah dataran tinggi (Bukit Barisan)," ujar Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Tri Agus Pramono dalam keterangan tertulisnya, Selasa (11/2).

Ia menjelaskan, secara regional, seiring aktifnya musim hujan di wilayah Sumsel dengan indikasi masih aktifnya Angin Muson Cina Selatan (Muson Barat) yang sarat uap air. Angin ini melalui wilayah Indonesia pada umumnya dan wilayah Sumsel pada khususnya mengakibat peningkatan curah hujan.

Bahkan berpotensi hujan disertai petir dan angin yang umumnya terjadi pada siang-sore hari. Sedangkan potensi hujan ringan-sedang yang berlangsung lama atau kontinu apabila terjadi pada malam-dini hari.

Sementara lanjut Tri, secara lokal, permukaan wilayah Sumsel yang umumnya berkarakteristik rawa dan sungai menjadi penyuplai uap air dan adanya pusat tekanan rendah di wilayah Australia (Belahan Bumi Selatan). Selain itu, adanya sirkulasi (pusaran massa udara) Eddy di Samudera Hindia sebelah Barat-Barat Daya Sumsel.

Kemudian hal itu menyebabkan adanya belokan (trough) dan pertemuan massa udara (konvergensi) di wilayah Sumsel yang menuju sistem tekanan rendah tersebut yang meningkatkan suplai uap air untuk pertumbuhan awan konvektif atau awan hujan akibat pemanasan matahari.

Sedangkan pada wilayah Sumsel bagian Barat (Dataran Tinggi Bukit Barisan) Angin Lembah yang terjadi mendapat pasokan uap air dari Samudera Hindia yang meningkatkan pertumbuhan awan orografik atau awan hujan akibat ketinggian permukaan. Berdasarkan kondisi regional dan lokal itu yang akan menyebabkan peningkatan dan kontinuitas curah hujan di wilayah Sumsel bagian barat yakni pada wilayah dataran tinggi atau Bukit Barisan. Sehingga akan berdampak potensi adanya bencana hidrometeorologi.

Tri memaparkan potensi bencana genangan/banjir, banjir bandang dan tanah longsor diwaspadai di wilayah Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Empat Lawang, Kabupaten Lahat, Kabupaten Muratara, Kabupaten Muba, Kabupaten Pali, dan Kabupaten Muara Enim.

Sementera potensi bencana angin kencang/puting beliung dan genangan/banjir juga terjadi di wilayah Kota Pagar Alam, Kota Prabumulih, Kabupaten Banyuasin, Kota Palembang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Kabupaten OKU Timur, dan Kabupaten OKU Selatan.

Secara umum kondisi hujan disertai petir dan angin di wilayah Sumsel akan berpotensi meningkat pada 11-16 Februari 2020 dan akan menurun pada 17-18 Februari 2020. Secara khusus hujan yang disebabkan awan konvektif dan orografis pada siang-sore hari di wilayah Sumsel akan berpotensi tetap terjadi selama musim hujan dan adanya potensi kabut radiasi pada dini-pagi hari yang dapat mengurangi jarak pandang. "Kami mengimbau masyarakat dan stakeholder terkait untuk tetap waspada dan update Informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG," kata Tri.

Kemudian BMKG mengimbau untuk seluruh pihak dapat melakukan tindakan preventif meminimalisasi dampak bencana hidrometeorologi. Diantaranya melakukan perbaikan infrastruktur lebih tahan bencana, membersihkan dan memperbaiki drainase, memangkas/mengurangi dahan dan ranting pohon agar tidak tumbang, serta perbaikan Daerah Aliran Sungai.

Selain itu, masyarakat dan stakeholder dapat menyiapkan kolam-kolam retensi, memprioritaskan transportasi udara dan air tidak pada siang-sore hari, berhati-hati beraktivitas di luar rumah dengan tidak berteduh di bawah pohon, dan menghindari genangan yang berpotensi kemacetan apabila terjadi hujan pada siang-sore hari. Serta berhati-hati beraktivitas atau berkendara pada dini-pagi hari seiring pengurangan jarak pandang akibat potensi kabut dan sebagainya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA