Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Kelamnya Teror Thailand

Selasa 11 Feb 2020 08:49 WIB

Red: Joko Sadewo

Gita Amanda, Jurnalis Republika

Gita Amanda, Jurnalis Republika

Foto: gita
Aksi teror bisa terjadi dimanapun dan dilakukan golongan apapun.

REPUBLIKA.CO.ID, Baru saja dunia digemparkan dengan aksi "teror"dari virus corona di Wuhan, China. Kini dunia kembali gempar, dengan aksi teror penembakan di Thailand.

Pada Sabtu (8/2) lalu, seorang tentara Thailand berpangkat Sersan Mayor, Jakraphanth Thomma, mengamuk tak karuan. Diduga ia geram karena urusan utang piutang, ada yang mengatakan pula ia ditipu komandannya. Namun kegeramannya harus dibayar mahal dengan 25 nyawa melayang.

Sang Sersan menyerang komandannya di markas dan menewaskan tiga orang. Sebelum akhirnya ia beranjak ke sebuah pusat perbelanjaan, Terminal 21, di Nakhon Ratchasima. Entah apa motifnya, di mal tersebut ia langsung melakukan serangan penembakan secara sporadis. Lebih dari 20 orang tewas. Jakraphanth sempat menyandera para pengunjung mal sebelum akhirnya ditembak hingga tewas oleh pihak keamanan.

Perdana Menteri Kerajaan, Prayut Chan-O-Cha, mengatakan ini merupakan insiden penembakan brutal pertama yang terjadi di Thailand. Memang benar, selama ini sejumlah aksi teror memang pernah melanda Thailand. Tapi sebelum-sebelumnya teror dilakukan dengan aksi pengeboman.

Baru kali ini, pelaku teror melakukan aksi penembakan sadis. Bahkan pelaku yang memang mahir menggunakan senjata itu, sempat mengunggah postingan di akun Facebooknya selama penyerangan berlangsung. Mirip dengan aksi penembakan di sebuah masjid di Christchuch, Selandia Baru beberapa waktu lalu, dimana pelaku juga menayangkan secara langsung aksi kejahatannya. Apa mungkin, Jakraphanth Thomma terinspirasi peristiwa tersebut? Tak ada yang pernah tahu.

Berbicara aksi teror di Thailand, saya jadi ingat aksi pengeboman 2015 lalu di Kuil Erawan, Bangkok, Thailand. Pada 17 Agustus 2015 sekitar pukul 18.56 waktu setempat, sebuah bom meledak di persimpangan Ratchaprasong, pusat kota Bangkok dan dekat dengan Kuil Erawan. Jumlah korban tewas akibat aksi tersebut juga mirip dengan aksi teror Sabtu lalu, yakni 20 orang korban tewas.

Bukan sekali itu Thailand diguncang bom, sebelumnya pada 2012 sejumlah aksi teror pengeboman juga melanda Thailand. Begitupun pada 2019 lalu, ada enam aksi pengeboman terjadi di tiga lokasi berbeda di Bangkok, Thailand. Beruntung aksi bom tahun lalu tak memakan korban jiwa. Bom yang meledak, memiliki daya ledak rendah. Pihak berwenang menduga aksi itu hanya bertujuan mengguncang dan menebarkan rasa takut di Thailand.

Sesungguhnya, penembakan di Thailand kembali menunjukkan aksi teror bisa terjadi kapan pun dimana pun. Pelakunya bisa siapa pun, tak melulu dari satu golongan tertentu. Namun yang perlu digarisbawahi, tak ada satu alasanpun yang dapat membenarkan dilakukannya aksi teror. Baik itu atas alasan menakuti, membalas dendam, apalagi hanya dengan alasan menyalurkan kekesalan dan amarah. Kini tagar #PrayForThailand meramaikan dunia maya, semoga di dunia nyata tak ada lagi aksi kekerasan terjadi atas dasar apapun, baik di Thailand atau belahan bumi manapun.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA