Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

AS Dakwa Empat Peretas China

Selasa 11 Feb 2020 06:38 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani

Upaya peretasan (Ilustrasi)

Upaya peretasan (Ilustrasi)

Foto: VOA
Perentasan yang dilakukan militer China berdampak pada 150 juta warga AS.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) William Barr mendakwa empat peretas militer China yang membobol laporan kredit Equifax. Barr mengatakan perentasan ini berdampak pada 150 juta warga AS.

"Ini sebuah intrusi yang disengaja dan menyapu informasi pribadi rakyat Amerika," kata Barr saat mengumumkan dakwaan terhadap empat anggota Tentara Pembebasan China, Selasa (11/2).

Peretasan ini menjadi salah satu pembobolan data terbesar dalam sejarah AS. Kedutaan China di Washington belum memberikan permintaan komentar. Pengumuman Barr menjadi gerakan agresif pihak berwenang AS terbaru dalam menghadapi operasi spionase China. Sejak mulai mengalihkan perhatian ke China pada tahun 2018 lalu AS sudah menjerat sekelompok pejabat pemerintah, penguasa dan akademik China yang berusaha mendapatkan rahasia Amerika.

Dalam perentasan Equifax sekitar 147 juta informasi pribadi seperti nomor Jaminan Sosial, tanggal kelahiran dan data Surat Izin Mengemudi dibobol. Para peretas menghabis beberapa pekan masuk ke dalam sistem Equifax.

Mereka masuk ke dalam jaringan komputer, mencuri rahasia perusahaan dan data pribadi. Para peretas menyamarkan lokasi asli mereka dengan meretas traffic ke sekitar 32 server di hampir 20 negara.

CEO Equifax Mark Begor mengatakan perusahaannya sangat berterimakasih dengan penyelidikan Departemen Kehakiman. Menurutnya pengumuman ini menunjukan penegak hukum AS serius dalam menghadapi kejahatan siber.

"Hal ini memastikan kembali badan penegak hukum federal kami memperlakukan kejahatan siber terutama kejahatan yang didukung negara seserius yang seharusnya," kata Begor.

Pemerintah AS mengatakan peretas Cina yang melakukan perentasan terhadap kantor pengelolaan pegawai pemerintah atau United States Office of Personnel Management (OPM). Hal ini terungkap pada tahun 2015 dan melibatkan data pribadi yang diberikan pelamar ke pihak keamanan pemerintah AS.

Pembobolan itu mencuri nama, nomor Jaminan Sosial, dan alamat lebih dari 22 juta pegawai dan mantan pegawai maupun kontraktor pemerintah federal AS. Para perentas juga mendapatkan 5,6 juta sidik jari.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA