Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Erick Thohir Sedih Orang Asia Disebut Penyakitan

Senin 10 Feb 2020 18:02 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Nidia Zuraya

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir.

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Erick mendorong ketahanan kesehatan bangsa dengan meningkatkan peran BUMN

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan pentingnya sektor health security atau ketahanan kesehatan, di samping ketahanan pangan dan ketahanan energi. Kata Erick, Kementerian BUMN berkewajiban menjaga ketahanan kesehatan.

"Health security penting walaupun hari ini mayoritas usia penduduk Indonesia rata-rata 35 tahun," ujar Erick saat menghadiri '1st Indonesia Healthcare Corporation Medical Forum' di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (10/2).

Terlebih kata Erick, saat ini sedang terjadi ancaman epidemik wabah corona yang tak hanya mengancam aspek kesehatan dan ekonomi, melainkan juga citra masyarakat Asia pada umumnya.

"Yang menyedihkan sudah banyak di negara-negara lain ada sterotipe penyakit ini penyakit orang Asia. Di Amerika sekarang bagaimana kita sebagai bangsa Asia dianggap penyakitan. Kita mesti tunjukkan ke dunia, kita negara yang kuat, hebat bukan hanya jadi market," ucap Erick.

Erick mendorong ketahanan kesehatan bangsa dengan meningkatkan peran BUMN farmasi dan rumah sakit-rumah sakit milik BUMN. Erick meminta BUMN fokus pada inti bisnis masing-masing.

Baca Juga

Sementara rumah sakit, kata Erick, didorong dibuat satu atap dalam wadah holding rumah sakit. Erick menyebut potensi besar rumah sakit BUMN yang apabila digabungkan memiliki 6.500 tempat tidur dari 64 rumah sakit dengan total konsolidasi revenue sebesar Rp 5,6 triliun.

"Salah satunya kita bicara health security, kita ingin pastikan konsolidasi rumah sakit dan farmasi bisa jadi benteng atau pertahanan kita sebagai bangsa," kata Erick.

Untuk mencapai konsolidasi yang sehat dan implementasi tersebut, Erick menekankan pentingnya aspek berkelanjutan. Kata Erick, BUMN tak hanya memikirkan bisnis semata, melainkan juga aspek sosial dengan melayani kebutuhan rakyat.

"Tidak bisa kita ini terjebak, semua hanya impor, kalau dilihat data menyedihkan. Alat kesehatan impor, bahan baku impor. Sebab itu poin kedua perlu adanya core business atau bisnis inti," ucap Erick.

Erick menilai dengan fokus pada inti bisnis, BUMN bisa lebih meningkatkan kinerja perusahaan. Erick menambahkan pentingnya akhlak yang baik dan kerja sama tim dalam konsolidasi industri kesehatan yang baik.

Erick mendorong pelayanan di rumah sakit BUMN berjalan profesional dan transparan. "Jika sistem yang mudah ini berjalan maka rumah sakit BUMN bisa lebih baik daripada swasta," ungkap Erick.

Erick menilai konsolidasi rumah sakit BUMN mampu menciptakan efisiensi dari sisi pengeluaran. Rumah Sakit BUMN juga didorong bersinergi dengan holding BUMN farmasi yang memproduksi obat-obatan yang dibutuhkan rumah sakit.

Erick meminta produksi obat dilakukan secara efisien dengan menyesuaikan kebutuhan permintaan. "Bisa juga  mengangkat tumbuhan atau obat tradisional menjadi bagian sistem solusi obat di Indonesia daripada impor (bahan baku)," lanjut Erick.

Erick menegaskan penguatan industri kesehatan dalam negeri berupa holding farmasi dan rumah sakit bukan upaya pemerintah memonopoli pasar. Kata Erick, langkah ini merupakan hal yang lumrah dalam menghadapi persaingan.

"Kita bukan mau monopoli, tetapi kita juga tidak mau hanya menyaksikan persaingan diambil asing atau swasta, kita punya hak bersaing untuk tidak kalah," kata Erick menambahkan.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA