Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Sasar Milenial, MUI Dorong Dai Dakwah Manfaatkan Medsos

Kamis 06 Feb 2020 04:21 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah

Sasar Milenial, MUI Dorong Dai Dakwah Manfaatkan Medsos. Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis.

Sasar Milenial, MUI Dorong Dai Dakwah Manfaatkan Medsos. Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis.

Foto: Thoudy Badai_Republika
Medsos sebagai bagian dari kemajuan era digital harus dimanfaatkan untuk dakwah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis menuturkan, MUI memberi perhatian khusus kepada kaum milenial karena mayoritas penduduk Indonesia adalah milenial. Kalangan ini juga yang akan menjadi pemimpin di masa depan.

Kiai Cholil mengatakan, MUI telah melakukan pelatihan untuk dai milenial dengan peserta berjumlah 119 orang. Pelatihan yang bekerja sama dengan Kementerian Agama dan digelar pada tahun lalu itu melatih dakwah yang sifatnya aplikatif, yakni pemberdayaan masyarakat dan dakwah secara langsung.

"Jadi kita juga mendorong kepada mereka untuk aktif di media, termasuk media sosial (medsos). Kita juga sudah punya fatwa nomor 7 tahun 2014 berkenaan dengan muamalah dalam bermedsos. Ini bagian dari panduan," tutur dia kepada Republika.co.id, Rabu (5/2).

Kemajaun teknologi digital, lanjut Kiai Cholil, tentu tidak bisa dinafikan. Karena itu, medsos sebagai bagian dari kemajuan di era digital ini harus dimanfaatkan dan diatur agar berguna bagi masyarakat Muslim khususnya kalangan milenial.

"Tapi bukan kita terbawa atau larut dalam medsos," ujar dia.

Kiai Cholil juga menyadari, saat ini tiap orang menghabiskan waktunya lebih dari empat jam dalam sehari untuk gadget. Sebagian orang memanfaatkan medsos untuk belajar tentang keagamaan di sela-sela waktu tersebut. Namun, dia mengingatkan untuk belajar agama dengan orang yang memiliki kapasitas keilmuan agama.

"Karena banyak juga orang yang nggak jelas keilmuannya, tapi dia punya kemampuan public speaking seakan-akan ada kebenaran di dalamnya padahal secara agama dia menyimpang," kata dia.

Kiai Cholil mengungkapkan, MUI melatih calon-calon dai dengan menanamkan pemahaman tentang Islam wasathiyyah (Islam moderat) dan paham kebangsaan. Pedoman dakwah yang lebih efektif dan berdampak signifikan juga menjadi bekal yang diberikan kepada mereka.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA