Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Iran Peringati 41 Tahun Revolusi Islam

Ahad 02 Feb 2020 13:28 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Friska Yolanda

Bendera Iran

Bendera Iran

Foto: Tehran Times
Upacara publik peringatan Revolusi Islam digelar di Bandara Mehrabad di Teheran.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHRAN -- Republik Islam Iran memperingati 41 tahun kemenangan revolusi Islam. Setiap tahunnya, upacara publik digelar di Bandara Mehrabad di Teheran, dalam rangka  mengenang kembalinya sejarah Imam Khomeini dari pengasingan pada 1979 silam. Selain di bandara ini, acara serupa juga biasanya digelar di makam Imam Khomeini di selatan Teheran, guna memberikan penghormatan kepada sang pemimpin revolusi.

Tahun ini, dilansir Tasnim News Agency, Ahad (2/2), perayaan yang akan berlangsung selama 10 hari itu telah dimulai di seluruh Iran pada Sabtu (1/2). Pada 1 Februari 1979 silam, mendiang pendiri Republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini tiba di Teheran dari Paris.

Khomeini kemudian memimpin pemberontakan nasional yang mencapai puncaknya dengan kemenangan Revolusi Islam selama 10 hari kemudian. Imam Khomeini hidup bertahun-tahun dalam pengasingan di Irak dan Prancis. Hingga akhirnya ia kembali ke Iran dan memimpin revolusi sejarah yang menggulingkan rezim Pahlavi pada 11 Februari 1979.

Karena itulah, periode 10 hari dari kembalinya Imam Khomeini hingga kemenangan revolusi Islam itu kerap dirayakan setiap tahun di Iran. Periode ini dikenal sebagai Fajar (Subuh) 10 Hari.

Dalam beberapa dekade sebelum revolusi Islam 1979, Iran dipimpin oleh Shah Mohammad Reza Pahlavi. Kepemimpinannya yang diktator menindas perbedaan pendapat dan membatasi kebebasan politik. Namun, di sisi lain, ia juga mendorong negara Timur Tengah itu untuk mengadopsi modernisasi sekuler yang berorientasi Barat. Sehingga, memungkinkan adanya kebebasan budaya.

Dilansir Business Insider, di bawah pemerintahan Shah, peluang ekonomi dan pendidikan Iran diperluas. Inggris dan Amerika Serikat (AS) menganggap Iran sebagai sekutu utama mereka di Timur Tengah. Sementara Shah secara paksa mengindustrialisasi sebagian besar negara itu.

Selama hampir 40 tahun (1941-1979), Shah memimpin Iran melalui serangkaian perubahan besar. Termasuk, reformasi dalam penataan seputar identitas terpusat Persia, penindasan suku-suku yang kerap brutal, dan perluasan hak-hak perempuan. Shah juga berusaha membuat pengawasan keagamaan tunduk pada negara. Salah satunya, melalui kebijakan pelarangan kerudung di tempat umum.

Di sisi lain, wanita didorong untuk mengikuti sekolah dan menerima pendidikan. Namun, langkah-langkah Shah yang kian otoriter dan langkah pemberhentiannya atas pemerintahan multi-partai mendorong lahirnya revolusi yang kemudian menjatuhkan rezim kepemimpinannya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA