Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Kisah Dua Mujahid dalam Satu Pusara

Sabtu 01 Feb 2020 17:18 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Muhammad Hafil

Kisah Dua Mujahid dalam Satu Pusara. Foto: Ilustrasi mujahid yang syahid.

Kisah Dua Mujahid dalam Satu Pusara. Foto: Ilustrasi mujahid yang syahid.

Foto: Dok Republika.co.id
Dua mujahid dimakamkan dalam pusara yang sama.

REPUBLIKA.CO.ID,  MADINAH -- Betapa mulianya berjuang di sisi Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Keyakinan itu terpatri dalam benak setiap sahabat beliau. Di antara mereka adalah Abu Jabir Abdullah.

Lelaki itu memiliki nama asli Abdullah bin Amr bin Haram. Warga Yastrib (Madinah) itu termasuk dalam 70 orang yang bersumpah setia kepada Nabi Muhammad SAW sewaktu Baiat Aqabah II. Setelah berislam, dia diangkat Rasul SAW sebagai utusannya untuk mendakwahkan agama ini kepada Bani Salamah.

Begitu Nabi SAW hijrah ke Madinah, Abu Jabir seperti halnya penduduk kota tersebut yang beriman. Mereka amat sangat bergembira. Putra Amr bin Haram itu kian bertekad untuk mempersem bahkan jiwa, raga, dan hartanya demi tegaknya kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illa Allah Muhammad Rasulullah.

Dalam Perang Badar, dia turut serta bersama pasukan Muslimin yang dikomandoi Nabi SAW. Begitu pula sewaktu Pertempuran Uhud berlangsung. Sebelum terjun ke kancah perang tersebut, Abu Jabir bahkan merasa inilah saat nya menjemput gelar syuhada. Perasa annya menjadi sukacita. Dia pun memanggil anaknya, Jabir bin Abdullah, yang juga sama-sama berkhidmat dalam Islam.

Wahai putraku, aku merasa yakin nanti akan gugur dalam medan perang. Malahan, barangkali saja aku termasuk yang pertama-tama syahid dari kalangan Muslimin. Demi Allah, tidak seorang pun yang kucintai setelah Rasulullah SAW kecuali engkau, kata dia.

Aku berpesan kepadamu, bayarlah utang-utangku selepas kepergianku kepada mereka yang berhak. Berwasiatlah kepada para saudaramu agar mereka senantiasa berbuat baik, lanjut Abu Jabir. Keesokan harinya, pasukan Muslimin bersiap-siap berangkat menuju padang Uhud.

Mereka hendak berjuang melawan kaum musyrikin Quraisy yang hendak menggempur Madinah. Singkat cerita, perang yang sengit pun pecah. Awalnya, pasukan Islam kian mendominasi jalannya pertempuran. Orang-orang kafir kocar-kacir meninggalkan mereka.

Namun, sejumlah pemanah Muslim yang di amanahkan Rasul SAW agar tetap bertahan di puncak bukit lalai menjalankan tugasnya. Mereka hendak memburu harta yang ditinggalkan begitu saja oleh musuh. Pasukan berkuda dari kubu Quraisy ternyata memanfaatkan kelengahan ini. Kontan saja, keadaan berbalik.

Kali ini, pasukan Muslimin terpencar lantaran tidak menyangka akan serangan men dadak dari arah bukit. Kejayaan di pelupuk mata pun berubah menjadi kekalahan telak. Meskipun selamat, kondisi Rasulullah SAW penuh luka parah. Begitu pula sejumlah sahabat yang dengan sekuat tenaga menjadi tameng hidup bagi beliau. Usai deru debu mereda, barulah diketahui banyaknya korban berguguran dari kalangan Muslimin.

Di antara para sahabat Nabi SAW yang wafat syahid ialah Abu Jabir. Jenazahnya ditemukan oleh anaknya sendiri, Jabir bin Abdullah. Orang-orang musyrik telah memperlakukan jasad itu dan para pahlawan Islam lainnya dengan amat keji. Beberapa bagian tubuh tampak terkoyak, tak beraturan lagi.

Melihat tubuh kaku ayahnya, Jabir terisak. Beberapa pasukan Muslim yang turut menyaksikannya juga meneteskan air mata. Sejurus kemudian, Rasul SAW melewati mereka. Baik kalian menangisinya atau tidak, ketahuilah para malaikat akan tetap menaungi mereka dengan sayap-sayapnya, sabda beliau.

Khususnya tentang Abu Jabir, Nabi SAW menjelaskan, sahabatnya itu me miliki keimanan yang teguh. Kepada putra sang syahid, beliau menuturkan suatu kabar tentang bapaknya itu. Wahai Jabir, tak satu orang pun yang diajak berbicara oleh Allah melainkan dari balik tabir.

Namun, Allah telah berbicara berhadap-hadapan dengan ayahmu. Allah berfirman kepadanya, 'Wahai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, niscaya Aku berikan.' Ayahmu menjawab, 'Ya Rabb, aku memohon kepada Engkau agar aku dapat dikembalikan ke dunia, sehingga aku dapat gugur sebagai syahid untuk sekali lagi.' Maka Rabbnya berfirman, 'Adalah ketentuan-Ku, mereka yang telah mati tak akan dikembalikan lagi.'

Ayahmu pun berkata, 'Kalau begitu, wahai Rabbku, beritakanlah kepada mereka yang masih hidup tentang nikmat- Mu kepada kami (para syuhada).' Maka, turunlah wahyu dari Allah SWT, yakni surah Ali Imran ayat 169-170.

Artinya, Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan- Nya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Sesudah tiap-tiap keluarga mengidentifikasi jasad anggotanya yang gugur dalam Perang Uhud, mereka pun hendak bersiap kembali ke Madinah. Mereka ingin memakamkan masing-masing anggota keluarganya yang syahid di kota tersebut. Begitu pula dengan keluarga Abu Jabir Abdullah.

Akan tetapi, seseorang kemudian menyerukan pesan Rasulullah SAW terkait pengurusan jenazah, Hendaknya mereka dimakamkan di tempat mana mereka gugur. Masing-masing kabilah pun menaati seruan tersebut. Beberapa saat kemudian, Rasulullah SAW memimpin prosesi pemakaman para sahabatnya yang telah syahid.

Begitu melihat jasad Abu Jabir, beliau bersabda, Makamkanlah jasad Abdullah bin Amr dan Amr bin al-Jamuh dalam satu liang yang sama. Sebab, keduanya saling menyayangi di dunia. Amr bin al-Jamuh masih tergolong kerabat dekat Abu Jabir. Dia merupakan saudara ipar Abdullah bin Amr bin Haram. Sebab, dia memperistri saudara pe rempuannya, Hindun binti Amr. Dia sen diri merupakan pemuka Bani Salamah. ¦

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA