Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Perawat Perempuan Diupah Lebih Kecil dari Laki-Laki

Kamis 30 Jan 2020 06:35 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nur Aini

Para perawat di Rumah Sakit, ilustrasi

Para perawat di Rumah Sakit, ilustrasi

Foto: AP Photo/Vincent Thian
Perempuan mendominasi pekerjaan perawat tapi diupah lebih kecil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pekerjaan perawat kerap diremehkan karena sebagian besar pekerjanya merupakan perempuan. Padahal, perawat perempuan dibayar lebih rendah daripada rekan-rekan prianya.

Baca Juga

Dilansir di Independent.co.uk pada Rabu (29/1), Royal College of Nursing menemukan bahwa pandangan merawat orang lain adalah karakteristik feminin terus bertahan dalam masyarakat Inggris. Hal itu menyebabkan pembatasan upah perawat dan kondisi kerja selama beberapa generasi.

Para peneliti memperingatkan bahwa kurangnya perhatian terhadap perawat akan terus memburuk, terlebih jika bayaran untuk perawat tidak meningkat. Selama ini, satu dari sembilan pekerjaan keperawatan dibiarkan kosong, kemudian sepertiga dari profesi itu akan pensiun pada 2026.

Laporan yang juga melibatkan Universitas Oxford Brookes, mendapati bahwa para perawat secara rutin harus mengalihkan tanggung jawabnya yang sebelumnya memang menjadi milik para dokter. Meskipun menghasilkan rata-rata 15,42 pound per jam, tetapi jumlah itu kurang dari sepertiga pendapatan yang diperoleh dokter dan dokter gigi.

Meskipun sembilan dari 10 perawat di Inggris adalah perempuan, mereka membawa pulang rata-rata 17 persen upah lebih rendah daripada perawat pria dalam peran yang sama setiap pekan. Perawat perempuan juga menempati kurang dari sepertiga dari posisi senior.

Salah satu penulis laporan, dr. Anne Laure Humbert mengatakan bahwa meskipun kompleksitas dan sifat teknis dari pekerjaan perawat semakin meningkat dan emosional yang sulit, persepsi kuno tetap bertahan tetap bertahan dalam keperawatan sebagai pekerjaan yang dilakukan perempuan. Tetapi hal itu mengurangi dan mendevaluasi perawat wanita.

“Kami melihat perawatan sebagai keterampilan atau karakteristik feminin yang alami. Ini bertentangan dengan tingkat keterampilan dan profesionalisasi yang dibutuhkan dalam keperawatan kontemporer,” kata Humbert.

Laporan itu berpendapat kelangkaan serius perawat, seharusnya memicu kenaikan upah untuk memenuhi permintaan. Namun, hal itu belum terjadi, karena profesi tersebut tidak cukup dihargai.

Peneliti di Universitas Oxford Brookes, dr. Kate Clayton-Hathway mengatakan kekhawatiran juga muncul mengenai kesejahteraan perawat, terutama karena tingkat intensitas kerja yang tinggi dan tingkat staf yang tidak aman. “Dalam hal perkembangan karir, semakin banyak yang memilih fleksibilitas daripada pengembangan karir. Sebagian besar karena kurangnya pilihan atau kontrol atas pola kerja atau jam kerja, kurangnya penyediaan perawatan keluarga, dan kurangnya dukungan untuk pelatihan dan pengembangan,” ujar dia.

Dunia keperawatan gagal menyamai kenyataan kehidupan profesional yang ditentukan keterampilan teknis, emosional, dan kognitif tingkat tinggi. Gambaran itu menunjukkan konsep keperawatan dan perawat berbasis gender, terbukti selalu menghalangi upaya untuk meningkatkan kedudukan dan daya tarik keperawatan sebagai karier. Perawatan adalah pekerjaan yang sangat terampil secara klinis, semua perawat baru harus memiliki gelar.

Kepala penelitian senior Royal College of Nursing, Rachael McIlroy mengatakan pada kenyataannya, keperawatan adalah profesi yang kompleks dan terampil. Namun, banyak perawat yang merasa suaranya tidak terdengar dan nilainya tidak diakui.

“Kami berharap bahwa penelitian ini akan memicu percakapan dalam profesi keperawatan, di antara staf perawat, pengusaha, regulator, dan pembuat kebijakan tentang peran penting yang dimainkan pekerjaan perawatan kesehatan terbesar di negara ini. Dan bagaimana kami menilai status dan pembayaran,” kata McIlroy.

Kepala eksekutif Fawcett Society, Sam Smethers mengatakan pekerjaan yang dilakukan perempuan, secara konsisten diremehkan tepat di pasar tenaga kerja. Perempuan juga melakukan bagian terbesar dari pekerjaan perawatan tidak dibayar yang memberikan kontribusi miliaran untuk ekonomi, tetapi tidak terlihat sehingga tidak dihargai.

“Kami setuju dengan Royal College of Nursing. Kita perlu mulai menghargai wanita,” ujar dia.

Penelitian Unison pada Juni menemukan pekerja NHS, termasuk perawat dan petugas kebersihan telah mengalami pelecehan seksual serius yang meliputi pengusiran, peraba, dan pemerkosaan di tempat kerja. Serikat pekerja itu melakukan jajak pendapat terhadap 8.000 petugas layanan kesehatan, memperingatkan bahwa beberapa korban bunuh diri dan menjelaskan bahwa pelecehan seksual dilakukan sesama pekerja, pasien, atau kontraktor. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA