Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

BKPM Waspadai Penurunan Investasi dari China Akibat Corona

Kamis 30 Jan 2020 04:44 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolanda

Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia

Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia

Foto: Republika/Yasin Habibi
Jika dalam 3 bulan corona tak terselesaikan, investasi China berpotensi turun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mewaspadai penurunan investasi dari China. Seperti diketahui, beberapa kota di Negeri Tirai Bambu itu tengah terjangkit virus corona, sehingga dikhawatirkan memengaruhi realisasi investasinya di Indonesia.

"Kalau dalam waktu dua sampai tiga bulan corona ini nggak terselesaikan, investasi China akan turun," ujar Kepala BKPM Bahlil Lahadalia kepada wartawan di Jakarta, Rabu, (29/1).

BKPM, lanjutnya, akan menghitung potensi investasi China yang gagal masuk akibat virus tersebut. "Termasuk kita hitung potensi gagal masuknya ke sektor apa," kata Bahlil.

Baca Juga

Ia menambahkan, selama Januari, investasi asal Cina yang masuk ke Indonesia aman. Hal itu karena negara tersebut sudah mengeluarkan dananya pada akhir tahun.

"Biasanya kalau mereka (dananya) turun di akhir tahun, itu untuk dua bulan," ujar Bahlil.

Sebagai informasi, BKPM mencatat investasi China di Indonesia pada 2019 sebesar 4,74 miliar dolar AS. Sementara Jumlah proyeknya mencapai 2.130 proyek.
Investasi dari China berada diurutan kedua terbesar, menggeser Jepang yang kini berada di posisi ketiga. Tercatat, investasi dari Jepang pada 2019 sebesar 4,31 miliar dolar AS dengan 3.835 garapan proyek.

Bahlil menjelaskan, pemerintah tidak menaruh prioritas investasi dari China. Menurutnya realisasi investasi China meningkat tajam karena negara tersebut sangat agresif.

"Semua yang kita tawarkan ke China, kita tawarkan juga ke negara lain. Hanya saja China lebih agresif," ujarnya.

Bahlil melanjutkan, China berani masuk ke sektor padat modal seperti manufaktur dan infrastruktur. Selain itu, kajian kelayakan (feasibility study) Cina juga lebih cepat dibandingkan Jepang.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA