Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Tangis Muslim China di Padang dan Magisnya Suara Azan

Kamis 30 Jan 2020 04:33 WIB

Red: Muhammad Subarkah

hri/ Red: Ani Nursalikah      28     0        15 Turis Muslim China Menangis Dengar Azan di Masjid Sumbar. Sebanyak 15 orang wisatawan Muslim asal Kota Kunming, China siang ini, Rabu (29/1) berkesempatan melaksanakan shalat zhuhur di Masjid Raya Sumatra Barat (Sumbar).  15 Turis Muslim China Menangis Dengar Azan di Masjid Sumbar. Sebanyak 15 orang wisatawan Muslim asal Kota Kunming, China siang ini, Rabu (29/1) berkesempatan melaksanakan shalat zhuhur di Masjid Raya Sumatra Barat (Sumbar).

hri/ Red: Ani Nursalikah 28 0 15 Turis Muslim China Menangis Dengar Azan di Masjid Sumbar. Sebanyak 15 orang wisatawan Muslim asal Kota Kunming, China siang ini, Rabu (29/1) berkesempatan melaksanakan shalat zhuhur di Masjid Raya Sumatra Barat (Sumbar). 15 Turis Muslim China Menangis Dengar Azan di Masjid Sumbar. Sebanyak 15 orang wisatawan Muslim asal Kota Kunming, China siang ini, Rabu (29/1) berkesempatan melaksanakan shalat zhuhur di Masjid Raya Sumatra Barat (Sumbar).

Foto: istimewa
Ternyata suara adzan itu magis dan tak bisa dibungkam.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Boleh saja dahulu Sukmawati Soekarnoputri berpuisi ketus menyoal suara adzan yang katanya tak seindah suara kidung. Boleh saja, pada tahun 1888 Residen Banten merasa pekak kupingnya dan harus tergagap bangun dari 'siesta' (tidur siang) karena mendengar suara adzan dari surau di sebuah kampung dekat rumahnya.

Ya, semua boleh saja menafikan suara adzan. Apalagi pada Subuh hari banyak yang masing menganggap suara adzan mengganggu nyenyak tidur. Tapi pada kenyataanya bagi seorang Muslim yang dari lahir hingga mati mendengar suara adzan, maka suara panggilan shalat itu berkuatan menajubkan. Magis!

Lalu apa buktinya? Yang paling nyata adalah peristiwa hari kemarin yang terjadi di Padang. Kala itu ada 15 orang turis Muslim asal China mengunjungi negeri 'ninik-mamak' itu. Apa yang teerjadi? Ternyata mereka menangis tersedu ketika mendengar suara adzan berkumandang. Ceritanya begini seperti yang dilaporkan wartawan 'Republika' yang ada di Padang, Febrian Fachri:

Sebanyak 15 orang wisatawan Muslim asal Kota Kunming, China siang ini, Rabu (29/1) berkesempatan melaksanakan shalat zhuhur di Masjid Raya Sumatra Barat (Sumbar). Sebanyak 15 orang wisatawan ini merupakan bagian dari 150 orang rombongan wisatawan asal China yang melakukan perjalanan wisata ke Sumbar sejak Ahad (26/1).

Ketua Pengurus Masjid Raya Sumbar Yulius Said mengatakan mempersilakan siapa saja terutama umat Islam yang ingin datang dan melaksanakan shalat di masjid yang kini menjadi ikon religi Sumbar tersebut. Karena itulah Masjid Raya Sumbar tidak mempersoalkan kehadiran 15 orang wisatawan Muslim China bersama-sama melangsungkan shalat zhuhur berjamaah.

"Beliau-beliau (15 orang wisatawan China) itu datang ke masjid untuk shalat. Jadi bagi kami pengurus masjid, siapa pun yang datang ke masjid ini untuk melaksanakan ibadah tak ada masalah," kata Yulius.

Yulius menceritakan 15 orang wisatawan asal Kunming ini sudah berada di Masjid Raya sebelum waktu shalat zhuhur masuk. Saat azan dikumandangkan oleh muazim, ke-15 orang wisatawan ini berurai air mata karena merasakan kenikmatan batin mendengarkan kumandang azan. Yulius mengatakan, kesempatan mendengarkan azan sangat langka bagi warga Kunming karena di negara mereka azan dilarang.

"Karena di negara dia tak pernah mendengarkan suara azan karena tidak boleh, jadi tadi itu kabarnya waktu azan zhuhur, semua (15 orang wisatawan China) pada nangis, terharu sekali dia mendengarkan suara azan, karena tak pernah ada di negaranya," ujar Yulius.

Yulius menambahkan suasana yang terjadi tadi di Masjid Raya Sumbar merupakan salah satu bentuk jalinan ukhwah Islamiah sebagai sesama pemeluk agama Islam. Sebab, wisatawan asal China itu dapat menikmati manisnya ibadah bersama saudara seiman di Masjid Raya tanpa rasa takut akan intimidasi dari pihak manapun.

"Mereka bisa shalat di masjid saja bukan alang kepalang senang dan gembiranya mereka. Bisa mendengarkan azan," kata Yulius.

Memang menurut Yulius, tetap ada rasa kekhawatiran dari pengurus masjid di tengah ramainya isu seputar penularan virus corona yang kini sedang mewabah di China. Tapi Yulius percaya para wisatawan yang datang ke Sumbar ini sudah melewati proses pemeriksaan yang ketat dan dijamin aman oleh pemerintah.

Atas situasi haru tersebut, maka sirnalah soal ketakutan terhadap virus Corona dan kesan negatif terhadap sosok orang China yang kini banyak mengendap di alam bawah sadar rakyat Indonesia. Dan ini menjadi pelajaran konkrit bahwa soal agama itu ternyata tak bisa ditahan sebatas soal batas negara. Dan ini tak peduli hanya pada Islam saja, agama lain pun begitu dari Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan lainnya.

Dan, dalam soal suara adzan ada kisah serupa yang sempat dikisahkan oleh tokoh umat Islam di Dilli, Timor Lorosae. Dalam sebuah perbicangan dia sempat menyatakan masyarakat negaranya 'merasa happy-happy' saja soal suara adzan. Mereka tak risau meski agama mayoritas di Dilli bukan Muslim.

''Bahkan mereka menganggap, suara adzan sebagai tanda waktu. Mereka merasa kehilangan bila suara adzan itu tiba tiba menghilang dari udara. Jadi tak ada soal bila di negara saya terdengar suara adzan,'' katanya.

Penerimaan soal suara adzan di Dilli memang berbeda dengan negara China yang nyata-nyata melarang suara adzan berkumandang. Berbagai rekan yang datang ke Uighur dan kota-kota lain sekitarnya tak pernah lagi mendengar suara ini. Katanya pihak penguasa setempat, agama hanya urusan privat bukan ada dipublik. Maka tak peduli dengan adzan, soal shalat pada waktu jam kerja juga tidak diperbolehkan.

Di Eropa juga sama saja. Hanya baru-baru ini saja suara adzan bisa berkumandang di lokasi elit semacam Trafagallar Square di London. Kala itu untuk pertama kali suara adzan di kumandangkan. Banyak orang yang menonton karena suara adzan itu berbarenan dengan suasana kerlip lampu di gedung-gedung dan monumen yang ada di sekitar tempat itu.

Lalu apakah ada yang bisa membungkam suara adzan? Jawabnya ada, yakni kekuatan politik. Apakah itu akan berhasil? Jawabnya tidak! Ini dibuktikan usai runtuhnya Uni Sovyet yang beridealogi komunis yang anti agama. Setelah negara ini terpecah jadi banyak negara dan munculnya federasi Rusia, yang kemudian muncul malah kembali suara adzan dan sesaknya masjid-masjid. Komunis ternyata terbukti tak bisa membungkam adzan. Suara adzan kini makin kencang di Moskow dan Presiden Rusia Vladimir Putin ternyata oke-oke saja.

Jadi apakah tangisan 15 turis asal China yang menangis saat mendengar suara adzan sebagai hal aneh? Jawabnya, ternyata tidak. Di situ malah terbukti bahwa persatuan atau ukhuwah umat Islam sulit dipatahkan. Semoga saja ini menjadi pelajaran bagi semua orang. Ingat dalam psikologi benci kadang sebagai reaksi lain dari rasa cinta yang terlalu!


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA