Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Bali Kintamani Festival Diundur karena Wabah Corona

Rabu 29 Jan 2020 14:18 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Perawat rumah sakit Bahteramas Kendari mengenakan pakaian pengaman di ruang isolasi khusus untuk pasien yang terinfeksi Virus Corona, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (28/1/2020).

Perawat rumah sakit Bahteramas Kendari mengenakan pakaian pengaman di ruang isolasi khusus untuk pasien yang terinfeksi Virus Corona, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (28/1/2020).

Foto: Antara/Jojon
Bali Kintamani Festival seharusnya digelar 8 Februari.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Pemerintah Provinsi Bali memutuskan untuk mengundurkan pelaksanaan Bali Kintamani Festival. Festival ini seharusnya  digelar 8 Februari 2020. Mundurnya festival ini disebabkan mewabahnya virus corona.

"Penundaan ini dalam batas waktu yang tidak ditentukan, tetapi kami usahakan tahun ini bisa jalan, sambil menunggu situasi di sana (China) kondusif," kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa setelah rapat dengan asosiasi pariwisata di Gedung Bali Tourism Board (BTB).

Penundaan "Bali Kintamani Festival" yang rencananya akan berlangsung di kawasan Geopark, Kintamani, Kabupaten Bangli.  Bali Kintamani Festival yang pada 2019 digelar dengan nama "Balingkang Festival" rencananya untuk tahun ini kembali menampilkan parade sebagai bentuk akulturasi budaya antara China dan Bali yang sudah terjalin sejak zaman dahulu.

Pemerintah Provinsi Bali sebelumnya telah menggandeng Asita yang menangani wisatawan China untuk mendatangkan sekitar 1.500 wisatawan menonton parade tersebut. Mengenai merebaknya virus corona, Astawa mengakui tentunya akan berdampak bagi perekonomian Bali yang bergantung pada sektor pariwisata.

"Penurunan jumlah kunjungan wisatawan tentu akan terjadi menyusul kebijakan Pemerintah Tiongkok, akan tetapi, ini saatnya kita untuk instrospeksi diri juga," ujarnya.

Baca Juga

Introspeksi yang dimaksud adalah secara sekala (jasmani) dan niskala (rohani). "Secara sekala mungkin saatnya kita mulai berbenah terutama isu-isu terkait pariwisata, seperti masalah lingkungan, sampah, kemacetan dan air bersih di Bali. Saatnya kita membenahi hal tersebut," ucapnya.

Dia menambahkan, sudah saatnya Bali melakukan pembenahan di segala bidang demi menunjang pariwisata, sehingga Bali siap bersaing ke depannya. Selain itu, juga perlu merespons berita-berita miring yang bisa merugikan citra pariwisata Bali.

"Seperti berita tentang sampah, perlu kita counter itu, mengingat wisatawan terutama dari Eropa sangat concern dengan masalah tersebut," ucapnya.

Astawa mengajak masyarakat Bali untuk terus berdoa agar wabah penyakit ini bisa segera teratasi dan tidak makin parah. Seraya menunggu keadaan di China kondusif, menurut Astawa, sudah saatnya juga membidik wisatawan dari negara-negara lain.

"Kita tidak bisa melupakan pasar potensial seperti Eropa, serta Australia juga yang berkontribusi besar terhadap jumlah kunjungan tiap tahunnya," ucapnya.

Sementara Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) IB Agung Partha Adnyana mengemukakan, sesuai dengan edaran yang dikeluarkan oleh Wakil Gubernur Bali, selain penundaan "Bali Kintamani Festival", juga dilaksanakan beberapa langkah antisipatif.

"Kita minta pihak hotel untuk tidak mengenakan cancelation feeterhadap agen perjalanan untuk wisatawan Tiongkok, karena bagaimana pun ini adalah force majeureyang memang tidak dinginkan," ujarnya.

Menurutnya, pihak akomodasi wisata bisa memberikan keringanan berupa penundaan kepada para wisatawan yang awalnya akan menginap. "Bagi agentravel wisatawan Tiongkok yang sudah membayar down payment¸dijelaskan dalam edaran bisa menggunakannya untuk kunjungan berikutnya," ucapnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA