Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Waspada Corona, Jabar Tingkatkan Pengawasan Wisatawan

Rabu 29 Jan 2020 12:49 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas medis memperlihatkan salah satu ruangan khusus isolasi di RSUD Kota Bekasi, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/1/2020).

Petugas medis memperlihatkan salah satu ruangan khusus isolasi di RSUD Kota Bekasi, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/1/2020).

Foto: Antara/Risky Andrianto
Harus ada area atau ruang khusus untuk wisatawan yang diduga terpapar virus.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG---Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat meminta pelaku yang terlibat dalam industri pariwisata meningkatkan kewaspadaan terkait virus corona. Menurut Kepala Disparbud Jabar, Dedi Taufik, hal ini merupakan bagian dari antisipasi dan mitigasi penyebaran penyakit yang berasal dari Kota Wuhan, China.

Dedi mengatakan, ia sudah mengirimkan surat imbauan tersebut kepada para pelaku industri pariwisata dan dinas pariwisata yang ada di 27 Kabupaten Kota di Jawa Barat.

"Salah satu poinnya adalah meningkatkan pengawasan kepada wisatawan dari negara yang sudah terindikasi ada penyebaran virus corona," ujar Dedi Rabu (29/1).

Selain itu, kata dia, berkordinasi dengan dinas kesehatan di masing-masing daerah sangat penting dalam melakukan pertolongan pertama jika menemukan suspect yang terpapar virus tersebut.

“Koordinasi antara pelaku industri pariwisata dengan dinas kesehatan harus ditingkatkan untuk mencegah penyebaran virus. Tentu ini berkaitan dengan kedatangan wisatawan mancanegara maupun lokal,” kata dia.

Selain itu, kata dia, harus ada area atau ruang khusus untuk wisatawan yang diduga terpapar virus. Termasuk ruang isolasi sementara.

Masyarakat yang bekerja termasuk petugas di kawasan pariwisata, kata dia,  diminta untuk menggunakan alat perlindungan diri, seperti masker sebagai antisipasi penularan penyakit.

“Surat ini sudah disampaikan kepada seluruh dinas terkait dan pengelola destinasi wisata di Jawa Barat,” katanya.

Dedi Taufik mengatakan, hal ini merupakan implementasi dari Manajemen Krisis Kepariwisataan (MKK). Apalagi, industri pariwisata merupakan salah satu andalan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mendongkrak pendapatan negara, devisa, dan lapangan kerja.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) di 2019 menyebutkan, selama periode 2014-2018 rata-rata laju pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Jabar adalah 7,90 persen per tahun. Pada 2018, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jabar mencapai 65,90 juta orang, terdiri dari 63,30 juta wisatawan domestik dan 2,60 juta wisatawan mancanegara.

Untuk menjaga tren tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah meluncurkan West Java Calendar of Event (CoE) and Festival 2020. Dalam program tersebut, ada 167 event yang disiapkan, terdiri dari 107 event kebudayaan, enam event musik, 23 event olahraga, lima event fashion, 10 event kuliner, serta 17 event ekshibisi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA