Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Harga Karet di Sumsel Turun 5 Persen Akibat Wabah Corona

Rabu 29 Jan 2020 03:02 WIB

Red: Israr Itah

Perkebunan Karet (Ilustrasi). Harga karet di Sumatra Selatan mengalami penurunan 5 persen karena wabah virus Corona di China.

Perkebunan Karet (Ilustrasi). Harga karet di Sumatra Selatan mengalami penurunan 5 persen karena wabah virus Corona di China.

Foto: AGROBISNIS-ONLINE.BLOGSPOT.COM
China menjadi negara pengimpor karet alam Indonesia terbesar selain India.

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Harga karet di Sumatra Selatan pada pekan ini merosot hingga lima persen karena dipengaruhi oleh kondisi terkini di China. Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel Rudi Arpian mengatakan, wabah virus corona telah mempengaruhi aktivitas perekonomian di China sehingga terjadi penurunan permintaan di pasar global.

“Sementara China menjadi negara pengimpor karet alam Indonesia terbesar selain India,” kata dia di Palembang, Selasa (28/1).

Harga karet Sumsel terus merosot hingga 5,0 persen sepanjang pekan ketiga Januari 2020 baik untuk kadar 60 persen maupun 100 persen.

Harga karet dengan kadar 100 persen mencapai Rp 16.290 per kilogram pada 24 Januari 2020. Harga itu telah turun sebanyak Rp 861 dibandingkan periode 20 Januari 2020.

Penurunan harga karet ini juga terjadi pada semua kadar kering karet, mulai dari yang kadar 40 persen hingga 100 persen.

Sebetulnya, dia mengemukakan, permintaan dari industri ban diprediksi meningkat 1,5 persen sepanjang tahun 2020 akibat pulihnya perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China. Namun kembali terganggu dengan wabah virus corona tersebut.

“Ditambah lagi, harga merosot ketika AS dan Iran mundur dari konflik. Ketika konflik Amerika Serikat dan Iran memanas harga karet terkerek naik,” kata dia.

Oleh karena itu, Rudi menilai pemerintah pusat perlu berupaya mendongrak harga karet dalam negeri. Serapan konsumsi karet nasional harus ditingkatkan.

"Proyek jalan menggunakan aspal karet harus diperluas. Pemerintah daerah, BUMD maupun BUMN harus menggunakan bahan baku karet dalam proyeknya,” kata dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA