Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Imbas Virus Corona, Harga BBM Bisa Turun?

Rabu 29 Jan 2020 00:09 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Friska Yolanda

Virus Corona

Virus Corona

Foto: Republika
Harga minyak dunia dipengaruhi berbagai faktor, tak hanya ketakutan terhadap wabah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah memberi sinyal bahwa penurunan harga minyak mentah dunia akibat kekhawatiran terhadap virus korona baru (2019-nCov), bisa ikut berimbas pada harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa pemerintah terus memantau dinamika yang ada.

Baca Juga

Menurutnya penurunan harga minyak dunia dipengaruhi berbagai faktor, tak hanya karena ketakutan terhadap wabah virus corona. Meski begitu, ia tak menampik bahwa naik turunnya harga minyak dunia memang menjadi dasar untuk penentuan harga BBM domestik.

"Tentu virus corona sebarannya kita lihat. Penurunan harga minyak selalu kepada ekonomi Indonesia, antara lain kaitannya dengan impor BBM dan harga BBM," ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (28/1).

Airlangga menjelaskan, penurunan harga minyak dunia bisa ikut mengurangi kebutuhan biaya untuk impor BBM ke Indonesia. Meski tidak dijelaskan secara spesifik, namun pernyataan Airlangga menyiratkan bahwa harga BBM bisa saja terkerek turun sebagai efek ikutan dari kekhawatiran dunia terhadap virus corona.

Diberitakan sebelumnya, harga minyak dunia anjlok 2 persen lebih lanjut ke posisi terendah dalam beberapa bulan pada Senin (27/1). Meningkatnya jumlah kasus virus corona dan isolasi kota Wuhan memperdalam kekhawatiran tentang permintaan minyak mentah.

Minyak mentah Brent turun 1,12 dolar AS per barel atau 1,9 persen, menjadi 59,57 dolar AS pada Senin, setelah sebelumnya turun menjadi 58,68 dolar AS. Harga ini terendah sejak akhir Oktober.

Minyak mentah AS CLc1 turun 1,14 dolar AS atau 2,1 persen menjadi 53,05 dolar AS setelah sebelumnya turun ke 52,15 dolar AS, terendah sejak awal Oktober.

Permintaan China diperkirakan akan menjadi negatif, mengingat pemerintah telah memperluas karantina virus corona ke 10 kota di provinsi Hubei dengan total populasi 30 juta orang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA