Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Emil Tawarkan Dua Opsi pada Korban Longsor Kabupaten Bogor

Selasa 28 Jan 2020 17:51 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Gita Amanda

Sejumlah pekerja Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bogor melakukan perbaikan infrastruktur jalan pasca bencana tanah longsor di ruas jalan utama Cigudeg-Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/1/2020)

Sejumlah pekerja Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bogor melakukan perbaikan infrastruktur jalan pasca bencana tanah longsor di ruas jalan utama Cigudeg-Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/1/2020)

Foto: Antara/Arif Firmansyah
Warga yang terdampak dan terkena longsor mencapai 540 Kepala Keluarga (KK).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil meninjau lokasi bencana longsor di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Selasa (28/1).

Saat meninjau warga di pengungsian yang ada di Desa Pasir Madang, Ridwan Kamil, menawarkan dua opsi yang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi warga korban longsor. Menurutnya, opsi pertama, warga tetap bisa tinggal di Desa Pasir Madang dengan syarat ada hasil kajian dari ahli geologi yang menyatakan bahwa desa tersebut aman untuk dijadikan lokasi hunian.

"Sementara opsi kedua adalah merelokasi warga ke tempat aman yang jaraknya sekitar 15 km dari Desa Pasir Madang," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil.

Emil pun sudah lebih dulu meninjau Kecamatan Cigudeg, calon lokasi untuk tempat relokasi warga korban longsor tersebut sebelum tiba di pengungsian.

“Jadi, ada dua opsi hari ini, (pertama) tetap di sini tapi harus dicek dulu oleh ahli (geologi). Opsi kedua, sebenarnya lebih kami sukai, karena memindahkan (relokasi) tidak terpencar-pencar, langsung semuanya di lokasi yang sama,” papar Emil.

Emil mengatakan, harapan warga memang relokasinya masih ingin di daerah ini. Tapi, harus dicek dulu oleh ahli geologi. "Kalau ternyata tidak ditemukan lahan yang datar, tidak memadai, ada juga lahan miring, rawan apa tidak, nanti pendapat dari ahli geologi itu akan dijadikan sebuah informasi (ke warga),” paparnya.

Emil pun berharap warga segera memutuskan dari dua opsi tersebut sehingga di awal Februari bisa dilakukan pembangunan tempat relokasi. Pemerintah pun, akan menjamin warga yang direlokasi baik dari sisi hunian maupun mata pencaharian.

Sementara bagi warga yang daerahnya masih memungkinkan untuk dijadikan hunian, pemerintah akan memberikan bantuan berdasarkan tingkat kerusakan rumahnya baik itu rusak ringan, sedang, maupun berat. “Tetapi yang lokasinya betul-betul tidak memungkinkan atau dia rumahnya terdampak sedikit tapi daerah yang rawan longsor, maka kita ada opsi relokasi," katanya.

Menurut Emil, ia sudah memiliki tempat 15 kilometer dari lokasi warga. Yakni, ada tanah luas milik PTPN yang akan dikondisikan sebagai perkampungan baru, jadi bedol desa. “Lalu, bagaimana pekerjaannya? Karena lahannya juga lahan hijau, jadi selain rumah nanti kita bisa sediakan tempat bercocok tanam atau bekerja sama dengan PTPN mengelola tanah pertanian,” katanya.

Adapun terdapat 15 titik yang akan dijadikan tempat relokasi warga korban di Kabupaten Bogor termasuk warga Pasir Madang. 15 titik itu tersebar di tiga wilayah yakni lima lokasi di Tanah PTPN VIII Cikasungka seluas 20,48 hektare, delapan lokasi di tanah perusahaan bukan milik PTPN VIII seluas 59,5 hektare, serta dua lokasi di tanah milik warga dengan luas 1,72 hektare. Total kebutuhan lahan relokasi mencapai 81,7 hektare.

Sementara itu, Kepala Desa Pasir Madang Encep Sunarya mengatakan, hingga kini ada 10 posko penanganan bencana di desanya. Jumlah kepala keluarga (KK) di Desa Pasir Madang mencapai 1.354 KK dengan jumlah penduduk mencapai 4.800 jiwa. Sementara warga yang terdampak dan terkena longsor mencapai 540 Kepala Keluarga (KK).

Untuk bantuan logistik para pengungsi, kata Encep, hingga kini logistik masih aman dan sudah disebarkan ke posko-posko yang ada. “Alhamdulillah bantuan baik dari pemerintah, relawan, maupun donatur sudah disalurkan dan diterima oleh masyarakat,” katanya.

Menanggapi dua opsi yang ditawarkan Pemda Provinsi Jabar, Encep berujar bahwa pihaknya bersama warga belum memiliki keputusan. Namun menurut Encep, warga berharap mereka masih bisa tetap tinggal di lokasi yang tidak jauh dari tempat tinggal semula atau masih berada di wilayah Desa Pasir Madang saat ini.

“Kami menjawab permintaan masyarakat harus berdasar, kita tunggu hasil dari ahli geologi seberapa rentan tingkat bencana yang ada di Desa Pasir Madang,” kata Encep.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA