Selasa, 1 Rajab 1441 / 25 Februari 2020

Selasa, 1 Rajab 1441 / 25 Februari 2020

Harga Cabai di Petani Terus Melonjak

Selasa 28 Jan 2020 15:47 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Gita Amanda

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan, lonjakan harga cabai murni dipicu oleh kondisi pasokan dan permintaan. Foto petani memanen cabai di Desa Binangga, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, (ilustrasi).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan, lonjakan harga cabai murni dipicu oleh kondisi pasokan dan permintaan. Foto petani memanen cabai di Desa Binangga, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, (ilustrasi).

Foto: Antara/Mohamad Hamzah
Kenaikan harga cabai diperkirakan terus berlanjut hingga akhir Februari

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Situasi pergerakan harga cabai di tingkat petani terus mengalami lonjakan imbas produksi yang diyakini menurun. Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) menyatakan, kenaikan harga cabai diperkirakan terus berlanjut hingga akhir Februari mendatang.

Ketua Umum AACI, Abdul Hamid, mengatakan, khusus jenis cabai rawit merah di tingkat petani sudah dihargai Rp 65 ribu - Rp 75 ribu per kilogram (kg). Adapun cabai merah besar rata-rata dihargai Rp 45 ribu - Rp 50 ribu per kg serta cabai merah keriting Rp 55 ribu. Abdul menjelaskan, harga tersebut jauh diatas rata-rata harga normal seluruh jenis cabai berkisar Rp 25 ribu - Rp 30 ribu per kg.

"Harga di tingkat petani masih terus naik dan pengaruhnya ke pasar. Kemungkinan ini masih naik lagi sampai akhir bulan Februari. Kita tidak bisa apa-apa lagi," kata Abdul saat ditemui di Jakarta, Selasa (28/1).

Ia menjelaskan, harga cabai yang melonjak saat ini rata-rata yang ditanam pada bulan Oktober-November lalu. Terdapat kesalahan prediksi dari petani terkait datangnya musim penghujan. Pada bulan-bulan tersebut, sesuai tren tahunan merupakan musim awal penghujan sehingga membantu proses penanaman.

Namun, situasi yang dialami para petani cabai di Indonesia justru mengalami kekurangan air karena musim hujan baru tiba di akhir Desember. Hal itu mengakibatkan rusaknya tanaman sehingga hasil panen tidak maksimal. Meski tak bisa menyebutkan angka produksi, Abdul meyakini ada penurunan pasokan panen pada awal tahun ini.

Diperkirakan, intensitas panen cabai baru kembali normal pada akhir Februari. Sebab, tanaman yang dipanen rata-rata merupakan yang ditanam pada akhir bulan Februari bertepatan dengan masuknya musim penghujan. "Petani rugi sebetulnya walaupun harga mahal, dia tetap menelan kerugian karena hasil panen rusak," kata Abdul.

Tahun ini, kata Abdul, kemungkinan besar produksi nasional cabai akan mengalami penurunan akibat gangguan air pada akhir tahun lalu. "Tahun ini produksi jelas akan turun," katanya.

Mengutip data Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, produksi cabai kelompok besar dan rawit tahun 2019 mencapi 2,64 juta ton. Adapun Kementan pada tahun 2020 ini tetap menargetkan peningkatan sebesar 7 persen menjadi 2,82 juta ton.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri mengatakan, harga cabai di pasar relatif stabil tinggi. Cabai rawit merah dihargai paling mahal yakni Rp 80 ribu per kilogram. Mansuri mengatakan, terdapat penyusutan volume cabai dalam proses distribusi dari petani ke pedagang.

Hal itu memicu pedagang harus menaikkan harga karena selain ada kenaikan harga dari petani, volume cabai yang diterima juga berkurang akibat busuk. "Pedagang  tidak ambil untung besar. Paling banyak itu hanya Rp 5.000 per kilogram belum lagi kalkulasi penyusutan cabai ke pasar," ujarnya.

Menurut Mansuri, harga akan kembali turun jika pasokan dari hulu kembali normal. Ia memastikan, untuk saat ini tidak ada peningkatan permintaan di pasar sehingga kenaikan harga murni dipengaruhi suplai. "Ini low season karena pasca tahun baru dan imlek," kata dia.

Kepala Bidang Distribusi Pangan Kementan, Inti Pertiwi mengatakan, harga cabai di Toko Tani Indonesia Centre (TTIC) dalam beberapa hari terakhir juga lebih mahal dari biasanya. Cabai rawit merah dihargai Rp 65 ribu per kg sementara cabai merak keriting sebesar Rp 50 ribu per kg.

Sebagai informasi, TTIC merupakan outlet bahan pangan pokok di setiap daerah yang dijadikan Kementan sebagai alternatif penyediaan pasokan untuk meredam harga.

Inti mengatakan, pada Rabu (28/1), pihaknya akan mendatangkan cabai dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan dan akan didistribusikan ke Pasar Induk Kramat Jati. Menurut dia, cabai akan dijual dengan harga maksimal Rp 45 ribu per kg oleh pedagang. "Besok kami upayakan harga akan turun," katanya.
 
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan, lonjakan harga cabai murni dipicu oleh kondisi pasokan dan permintaan. Meski demikian, Syahrul mengklaim fluktuasi masih berada pada rentang yang normal. Kementan, kata Syahrul, telah menyiapkan sejumlah langkah untuk melakukan intervensi secara normal.

"Kami akan lihat daerah mana yang memerlukan. Kalau intervensi terlalu cepat nanti petani yang menikmati harga tersebut akan merasa dibatasi," kata Syahrul.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA