Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Turis China di Padang Diinapkan di Hotel Hingga Pulang

Senin 27 Jan 2020 19:39 WIB

Red: Ani Nursalikah

Turis China di Sumbar Diinapkan di Hotel Hingga Pulang. Belasan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Minangkabau (FMM) menggelar spanduk yang berisikan menolak kedatangan turis China, saat mengadakan audensi di kantor Dewan Perwakilan Daerah Sumatera Barat, Padang, Senin (27/1/2020).

Turis China di Sumbar Diinapkan di Hotel Hingga Pulang. Belasan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Minangkabau (FMM) menggelar spanduk yang berisikan menolak kedatangan turis China, saat mengadakan audensi di kantor Dewan Perwakilan Daerah Sumatera Barat, Padang, Senin (27/1/2020).

Foto: Antara/Muhammad Arif Pribadi
Turis China di Sumbar diinapkan di hotel karena ada keresahan di masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Biro perjalanan wisata Coco's Tour, yang mendatangkan 150 wisatawan China berwisata ke Sumatra Barat, memutuskan menginapkan semua tamu di salah satu hotel di Padang setelah adanya keresahan dan kekhawatiran dari sejumlah pihak.

"Setelah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait, baik Dinas Pariwisata maupun kepolisian, kami memutuskan menginapkan para tamu di hotel," kata Perwakilan Coco's Tour Yunando di Padang, Senin (27/1).

Menurut dia, penolakan sejumlah pihak karena khawatir terhadap penyebaran virus corona merupakan ujian yang harus dihadapi pelaku pariwisata. "Kami bisa memahaminya, namun rencana mendatangkan para turis sudah jauh hari digagas, dan kami juga tidak menduga ada kejadian virus ini," katanya.

Yunando menambahkan, sejak kedatangan pada Ahad (26/1), para turis ini sudah diajak ke Kota Pariaman untuk menyaksikan Sekolah Beruk serta ke Kota Bukittinggi. "Di Bukittinggi sudah dibawa ke Panorama dan Lubang Jepang," ujarnya.

Namun, untuk perjalanan lanjutan seperti ke Kabupaten Tanah Datar, yang rencananya berlangsung pada Senin (27/1), dibatalkan dan semua tamu dibawa langsung ke Padang. Ia mengharapkan para turis tidak ada yang komplain karena berubahnya jadwal perjalanan.

Yunando juga mengatakan para wisatawan ini menikmati wisata di Sumatra Barat, meski baru berkunjung selama dua hari. "Mereka mengatakan selama berkunjung ke Indonesia, hanya di Sumbar yang dapat sambutan luar biasa, makanannya sederhana tapi rasanya mewah," ujarnya.

Untuk rencana pemulangan turis asal China lebih awal karena desakan sejumlah pihak, ia mengatakan, hal itu bukan perkara yang mudah. Menurut dia, proses tersebut paling cepat membutuhkan waktu dua hari karena banyaknya prosedur dan perizinan yang harus dilalui, mulai dari Kementerian Pariwisata, Kedutaan Besar China, Imigrasi, Angkasa Pura II hingga maskapai.

"Untuk maskapai saja kami mengajukan sejak Oktober 2019, namun izin baru keluar awal Januari 2020," kata dia.

Ia memastikan kedatangan gelombang wisatawan selanjutnya asal China ikut dibatalkan karena situasi tidak kondusif. "Kami rugi ratusan juta karena untuk penerbangan saja disubsidi hingga Rp 1,5 juta per orang dan itu dibayar tunai di awal kepada maskapai," kata Yunando.

Meski demikian, ia menginginkan kejadian ini tidak menyurutkan agen perjalanan di China untuk mempromosikan wisata di wilayah Sumatra Barat dan sekitarnya. Terkait dengan kondisi turis saat ini, ia menyampaikan, semuanya dalam keadaan sehat dan tidak ada yang sakit.

"Mereka semua sehat dan dilakukan pemeriksaan suhu tubuh sekali sehari," ujarnya.

Sebelumnya, sebanyak 150 turis asal Kunming, China, tiba di Bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman pada Ahad pagi (26/1), pukul 06.36 WIB. Menurut rencana, rombongan wisatawan mancanegara tersebut akan berwisata selama lima hari di Sumatra Barat pada 26-30 Januari 2020. Kedatangan wisatawan mendapat penolakan dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Bukittinggi-Agam karena ketakutan masyarakat terhadap adanya virus corona.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA