Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Omah Sastra Ahmad Tohari Diresmikan di Banyumas

Senin 27 Jan 2020 14:27 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Dwi Murdaningsih

Ahmad Tohari

Ahmad Tohari

Foto: Youtube
Di Omah Satra Ahmad Tohari banyak terdapat buku-buku budaya penginyongan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Periwisata (Dinporabudpar) Asis Kusumandani, meresmikan keberadaan Omah Sastra Ahmad Tohari, Sabtu (25/1) malam. Omah Sastra Ahmad Tohari  berada di wahana wisata alam Agro Karang Penginyongan (AKP), di Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok. Peresmian ditandai dengan pemukulan gong dan juga dimeriahkan dengan Sendra Tari Dukuh Paruk.

''Nama Tohari ini digunakan karena beliau merupakan sastrawan yang moncer namanya berkat trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk. Seluruh masyarakat sastra di Indonesia, bahkan dunia sudah mengenalnya. Ahmad Tohari juga merupakan putera asli Banyumas,'' kata pemilik obyek wisata Agro Karang Pangiyongan, Liem Koeswintoro.

Dia mengaku sengaja mempersiapkan obyek wisatanya tidak hanya sebagai wahana rekreasi. Namun juga dilengkapi dengan fasilitas pendidikan karakter bangsa, dalam hal ini menyiapkan Omah Sastra Tohari.

''Di Omah Tohari ini, tidak hanya ada buku-buku karya satra Ahmad Tohari. Tapi juga buku-buku mengenai budaya penginyongan pada umumnya,'' kata dia.

Kepala Dinporabudpar Asis Kusumandani yang hadir mewakili Bupati Achmad Husein, menyambut baik peresmian Omah Sastra Ahmad Tohari. ''Keberadaan Omah Sastra Ahmad Tohari diharapkan mampu menjadi tempat wisata sastra, sekaligus menggugah, menginspirasi serta meningkatkan minat kepada generasi muda terhadap sastra,'' kata dia.

Menurutnya, salah satu tujuan dibangunnya rumah sastra ini adalah untuk mewadahi dan melestarikan karya-karya seni dan sastra khususnya yang berkaitan dengan karya Ahmad Tohari dan budaya panginyongan.

Sastrawan Ahmad Tohari, dalam kesempatan itu mengatakan budaya literasi masyarakat Indonesia saat ini, tergolong masih sangat rendah. Hal dinilai menjadi salah satu variabel penyebab ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya.

Berdasarkan data yang dia peroleh, tingkat literasi masyarakat Indonesia berada di peringkat 60. Sementara Malaysia yang menjadi tetangga negeri ini, berada di peringkat 18. ''Di negeri ini, masih sedikit masyarakat yang senang membaca. Dalam kondisi ini, tentu lebih sedikit lagi yang senang menulis,'' ucap dia.

Ahmad Tohari menyebutkan, manfaat sastra tidak hanya memperkaya pengetahuan. Lebih dari itu, juga  bisa mengasah kepekaan dan kemanusiaan, sekaligus penanaman karakter. ''Melalui sastra, upaya pendidikan karakter jauh lebih dilakukan,'' katanya. n

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA