Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Rajin Shalat, Gemar Puasa, Kerap Umrah: Tanpa Akhlak Percuma

Sabtu 25 Jan 2020 12:00 WIB

Rep: MgRol 127/ Red: Nashih Nashrullah

Akhlak menjadi muara dari segenap ibadah seorang hamba dari shalat hingga puasa. Foto shalat tahajud/ilustrasi

Akhlak menjadi muara dari segenap ibadah seorang hamba dari shalat hingga puasa. Foto shalat tahajud/ilustrasi

Akhlak menjadi muara dari segenap ibadah seorang hamba.

REPUBLIKA.CO.ID, Akhlak memang menjadi penting demi fondasi diri yang lebih baik. Ar-Rafi’i dalam karya monumentalnya, Wahyu Qalam, mengatakan: “Seandainya aku meminta untuk menghimpun kandungan filsafat Islam, maka dua kata cukup untuk mewakilinya yaitu keteguhan akhlak”. 

Baca Juga

Mengutip buku Amru Khalid, Semulia Akhlak Nabi, bahkan Nabi SAW pun diutus karena akhlaknya. Seperti hadis yang diriwayatkan Malik, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”  

Dengan begitu, apakah hubungan antara akhlak dengan diutusnya Nabi SAW? Jawabannya ada di dalam surah al-Anbiya: 107: “Dan Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat seluruh semesta alam.” 

Sebagian orang pasti akan menganggap bahwa ibadah yang dicontohkan Rasulullah SAW menjadi bagian utama dalam dakwahnya. Dengan begitu, bukankah ibadah yang seharusnya lebih didahulukan? Seperti shalat, puasa, doa, zikir, dan lain-lain.  

Ibadah dalam arti luas memang mencakup semuanya, termasuk akhlak. Jadi, sesungguhnya akhlak lebih esensial daripada ibadah secara lahiriyah, karena tujuan utama setiap ibadah adalah memperbaiki akhlak.  

Maka dari itu, ibadah seperti shalat misalnya, akan terhubung untuk memperbaiki akhlak Anda. Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS al-Ankabut: 45)  

Dalam sebuah hadist qudsi pun Allah SAW berfirman: “Sesungguhnya Aku menerima shalat dari seseorang yang mengerjakannya dengan khusyuk karena kebesaran-Ku, dan dia tidak mengharapkan anugerah dan shalatnya karena sebagai hamba-Ku (makhluk-Ku), dan dia tidak menghabiskan waktu malamnya karena bermaksiat kepada-Ku, menghabiskan waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, mengasihi orang miskin, ibnus sabil, mengasihi Anda dan menyantuni orang yang sedang terkena musibah.” (HR az-Zubaidi) 

Sudahkah Anda mengerti apa hubungan shalat dan perbaikan akhlak? Ingatlah, jika shalat Anda belum memberikan nilai kasih sayang kepada sesama manusia, maka Anda belum memetik buah shalat Anda dengan sempurna.  

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA