Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Kekhawatiran Virus Corona Sebabkan Harga Minyak Anjlok

Senin 27 Jan 2020 10:47 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda

Ilustrasi Kilang Minyak

Ilustrasi Kilang Minyak

Foto: Reuters/Shamil Zhumatov
Pasar didorong oleh faktor psikologis dan eksektasi yang negatif.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Harga minyak dunia anjlok 2 persen lebih lanjut ke posisi terendah dalam beberapa bulan pada Senin (27/1). Meningkatnya jumlah kasus virus corona Cina dan isolasi kota Wuhan memperdalam kekhawatiran tentang permintaan minyak mentah.

Baca Juga

Minyak mentah Brent turun 1,12 dolar AS per barel atau 1,9 persen, menjadi 59,57 dolar AS pada Senin, setelah sebelumnya turun menjadi 58,68 dolar AS. Harga ini terendah sejak akhir Oktober. 

Minyak mentah AS CLc1 turun 1,14 dolar AS atau 2,1 persen menjadi 53,05 dolar AS setelah sebelumnya turun ke 52,15 dolar AS, terendah sejak awal Oktober.
Permintaan Cina diperkirakan akan menjadi negatif, mengingat pemerintah telah memperluas karantina virus corona ke 10 kota di provinsi Hubei dengan total populasi 30 juta orang.

"Dampak dari semua ini lebih besar karena pembatasan diberlakukan selama musim perjalanan tersibuk bagi orang Cina," kata Commerzbank dalam sebuah catatan, dilansir Oil Price, Senin (27/1).

Virus corona dapat memangkas permintaan sekitar 260 ribu barel per hari dan mengurangi harga minyak sekitar 3 dolar AS per barel, menurut laporan dari Goldman Sachs. Namun, pada hari-hari setelah publikasi estimasi itu, harga minyak turun bahkan lebih dari 3 dolar AS.

Saat ini ekspor bensin sudah tumbuh 27 persen yoy menjadi 16,37 juta ton pada 2019, sementara ekspor diesel meningkat 15 persen menjadi 22 juta ton.
Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman Al-Saud mengatakan pada Senin (27/1) bahwa ia mengawasi perkembangan di Cina. Ia mengatakan merasa yakin bahwa virus corona akan teratasi.

"Pasar terutama didorong oleh faktor psikologis dan eksektasi yang sangat negatif diadopsi oleh beberapa pelaku pasar, meskipun dampaknya sangat terbatas pada permintaan minyak global," kata Pangeran.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA