Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Pesan Rektor Unhas pada Haerul, Terus Bekerja dan Berkarya

Jumat 24 Jan 2020 20:51 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Andi Nur Aminah

Pembuat pesawat Swayasa Ultralight asal Pinrang, Haerul (tengah) mendapat penjelasan dari Wakil Ketua Indonesia Flying Club (IFC) Untung Medianto (kiri) tentang mesin pesawat Cesna 152 saat berkunjung ke markas FASI DKI Jakarta di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (21/1/2020).

Pembuat pesawat Swayasa Ultralight asal Pinrang, Haerul (tengah) mendapat penjelasan dari Wakil Ketua Indonesia Flying Club (IFC) Untung Medianto (kiri) tentang mesin pesawat Cesna 152 saat berkunjung ke markas FASI DKI Jakarta di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (21/1/2020).

Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Kerhasilannya membuat dan menerbangkan pesawat mendapatkan pujian dan dukungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Haerul, montir motor asal Pinrang, Sulawesi Selatan kini tengah naik daun. Keberhasilannya membuat dan menerbangkan pesawat mendapatkan banyak pujian dan dukungan.

Baca Juga

Haerul bahkan sempat diundang oleh Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko. Haerul juga diajak ke lapangan terbang Pondok Cabe untuk melihat aturan pembuatan pesawat yang mendukung keselamatan penerbangan.

Hasil kunjungannya ke Jakarta ini kemudian menuntun Haerul menyambangi Universitas Hasanuddin (Unhas). Haerul bersama Dr Syahid Arsyad selaku dosen Fakultas Teknik Unhas, yang juga mendampingi Haerul menemui beberapa pejabat di Jakarta.

Haerul kini bertemu dengan Rektor Unhas Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA. Pertemuan berlangsung di Ruang Kerja Rektor, Lantai 8 Gedung Rektorat pada Jumat (24/1). "Pertemuan ini bertujuan untuk memperoleh masukan dari pihak Unhas terkait inovasi Haerul yang menjadi inspirasi Indonesia," ujar Syahid Arsyad dalam siaran pers, Jumat (24/1).

Menurut Syahid, selama kunjungan Haerul di Jakarta banyak sekali mendapatkan masukan-masukan positif, salah satunya dari Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Moeldoko. “Beberapa petinggi, termasuk Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Pak Moeldoko, menyampaikan agar inovasi yang dilakukan oleh Haerul ini segera dikoordinasikan dengan perguruan tinggi. Langkah Haerul seharusnya diperkuat dengan basis ilmiah. Disitulah perguruan tinggi diharap berperan,” kata Syahid.

Haerul kemudian menceritakan proses yang dilakukannya selama membuat pesawat terbang tersebut. Haerul juga menceritakan secara detail hal-hal menarik yang dialaminya, mulai dari uji coba pertama yang gagal, hingga akhirnya berhasil terbang setelah enam kali uji coba.

Masih menurut Haerul, uji coba kedua dilakukan di //runway Malimpung yang merupakan landasan pesawat peninggalan Jepang. Pesawat naik sekitar 10 sentimeter tapi hilang kendali dan sayapnya patah. Tidak putus asa, Haerul kemudian mencari penyebabnya dan segera melakukan penyempurnaan.

“Pada uji coba ketiga, saya lakukan di pantai. Pesawat naik sampai dua meter. Saya betul-betul tegang tapi sangat bahagia. Pesawat sudah berhasil terbang, tapi saya belum tahu caranya belok. Pesawat yang terbang lurus akhirnya menabrak dinding pembatas pantai,” cerita Haerul yang disambut tawa.

Lurah Pallameang, Asdar, menjelaskan bahwa sebagai aparat pemerintah dirinya menghadapi dilema. Haerul minta izin untuk setiap uji coba itu.

Menurut aturan yang berlaku tidak mungkin aparat pemerintah dapat memberikan izin. Karena uji coba seperti ini memiliki risiko besar, baik untuk keselamatan Haerul maupun untuk orang di sekitarnya.

“Di sisi lain, kami juga tidak ingin membatasi imajinasi dan semangat Haerul yang begitu mengagumkan. Akhirnya, aparat pemerintah dan pihak terkait sepakat mengambil langkah kompromi. Kita izinkan secara lisan. Kita tidak memberi izin tertulis, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Asdar.

Hal yang sama disampaikan oleh perwakilan FASI Sulawesi Selatan, A Salam. Sebagai penggiat dirgantara yang diakui pemerintah, ada standar ketat dalam izin penerbangan.

"Ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu kelayakan pesawat, dan kelayakan penerbang. Ada verifikasi dan sertifikasi yang ketat untuk kedua hal itu. Sementara Haerul tidak memiliki keduanya," ujar Salam.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA