Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Anggota DPR Temukan 70 Kontainer Sampah Impor di Tj Priok

Kamis 23 Jan 2020 16:50 WIB

Rep: Arie Lukihardianti / Red: Agus Yulianto

Bea Cukai bersinergi mengirimkan kembali impor sampah terkontaminasi limbah B3.

Bea Cukai bersinergi mengirimkan kembali impor sampah terkontaminasi limbah B3.

Foto: Bea Cukai
Barang haram itu berasal dari Amerika Serikat, Inggris dan Australia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - -  Anggota Komisi IV DPR RI melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta, Kamis (23/1) siang. Hasilnya, mereka menemukan ada 70 kontainer sampah impor. Barang haram itu berasal dari Amerika Serikat, Inggris dan Australia yang diimpor oleh PT New Harvestindo Internasional.

photo
Anggota MPR Fraksi Dedi Mulyadi. 

Jumlah ini dinilai cukup besar. Apalagi hasil temuan lapangan menunjukkan akan ada 1.015 kontainer sampah impor lagi yang bakal merapat di Pelabuhan Tanjungpriok.

Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi yang turut mengikuti sidak, impor sampah merupakan pelanggaran berat. "Kami menuntut pemerintah untuk segera mengembalikan sampah impor itu ke negara asalnya," kata Dedi Mulyadi, melalui ponselnya, Kamis (23/1). 

Dalam kesempatan itu, anggota Komisi IV DPR RI sempat mendatangi kantor PT Sucofindo untuk menanyakan mengapa sampah impor bisa lolos ke Indonesia. Pihak PT Sucofindo, kata Dedi, sempat memberikan penjelasan yang berbelit-belit sebelum akhirnya mengakui bahwa barang dalam kontainer itu adalah sampah.

"Dalam Permendag, yang boleh diimpor itu barang bersih, seperti plastik dan sejenisnya, bukan sampah," kata Dedi.

Menurut Dedi, fenomena impor sampah ini sangat memperihatinkan. Terlebih sebelumnya sudah mencuat kasus di Sidoardjo, Jawa Timur, dimana sampah impor dijadikan bahan bakar untuk memproduksi tahu.

"Asap pembakaran dari sampah impor itu sangat mencemari lingkungan. Selain polusi udara, tetesan sisa pembakaran itu dimakan ayam dan membuat telur yang dihasilkan oleh ayam itu jadi tercemar bahan kimia. Ini sangat berbahaya," tegas Dedi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA