Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Saat Khalifah Abu Bakar Menjual Pakaiannya di Pasar

Kamis 23 Jan 2020 14:46 WIB

Red: Muhammad Hafil

Saat Khalifah Abu Bakar Menjual Pakaiannya di Pasar. Foto: Ilustrasi Sahabat Nabi

Saat Khalifah Abu Bakar Menjual Pakaiannya di Pasar. Foto: Ilustrasi Sahabat Nabi

Foto: MgIt03
Sebelum menjadi khalifah, Abu Bakar sangat kaya raya.

REPUBLIKA.CO.ID,  MADINAH --  Abu Bakar RA telah diangkat menjadi pemimpin kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar menggenggam seluruh kekuasaan yang dimiliki kaum Muslimin. Abu Bakar memegang komando tertinggi dalam militer kaum Muslimin. Abu Bakar menguasai seluruh aspek politik, ekonomi, sosial kaum Muslimin.

Betapa besar kedudukan khalifah pertama itu. Sebelum menjadi khalifah, Abu Bakar juga salah satu sahabat yang kaya raya. Ia pedagang sukses. Makmur. Tapi lihatlah perilakunya yang satu ini.

Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menggambarkan, suatu hari kala menjadi khalifah mengumpulkan pakaian-pakaian yang ia punyai. Kemudian, ia berjalan ke pasar dan memanggil-manggil orang-orang. "Siapakah yang mau membeli pakaian ini?" serunya.

Kaum Muslimin yang melihat khalifah mereka tengah berdagang di pasar merasa tidak enak hati. Mereka lalu menegur sang khalifah, "Bagaimanakah engkau berbuat demikian? Padahal, engkau telah diangkat menjadi pemimpin umat sepeninggal Nabi?"

Abu Bakar lantas menjawab, "Janganlah engkau melalaikan aku dari memikirkan keluargaku. Karena apabila aku menyia-nyiakan mereka, niscaya aku akan lebih menyia-nyiakan orang selain mereka."

Inilah pemahaman yang agung dari Abu Bakar. Ia memiliki dua kewajiban sekaligus. Kepala keluarga dan kepala pemerintahan. Ia tengah mengamalkan peran keduanya secara seiring sejalan. Tidak tumpang tindah. Tidak abuse of power. Tidak aji mumpung. Tidak.

Abu Bakar sadar, kapan ia dituntut menjadi kepala keluarga. Dia pun berkewajiban mencari nafkah. Ia tidak menggunakan fasilitas kekuasaannya untuk keluarganya. Begitu juga, keluarganya tidak sama sekali menggunakan fasilitas negara untuk urusan pribadi.

Abu Bakar juga sadar, kapan ia harus memerankan sebagai pemimpin kaum Muslimin. Bahwa ada waktu-waktu yang tersita untuk memikirkan umat. Bahwa ada harta yang akan tergadai untuk kepentingan umat. Bahwa ada peluh yang akan tercurah untuk memikirkan umat. Abu Bakar bekerja. Sesuai dengan perannya. Ia tetap bekerja sebagai seorang suami dan ayah. Ia tetap bekerja sebagai pemimpin umat Islam seluruh dunia. Ia tengah menyelesaikan amanah sesuai dengan porsinya.

Kita sebagai manusia memang memiliki pelbagai peran. Harus dijalani berbarengan dalam satu kesempatan hidup. Adil adalah kunci untuk mengatur semuanya dalam harmoni. Adil, menurut Syekh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin, adalah mendudukkan setiap pemilik kedudukan pada tempat yang semestinya.

Menjadi adil memang tidak mudah. Tetapi itu bukan pilihan melainkan keharusan. Ada banyak godaan untuk mencampuradukkan peran demi sebuah kemudahan.

Mudah mendapatkan harta, mudah mendapatkan akses, mudah mendapatkan keistimewaan. Jika lantas demi semua itu kita menggadaikan semua hak yang seharusnya ditunaikan, kita akan berpindah dari kuadran kebaikan bernama adil menjadi kuadran keburukan bernama zalim. Adil wajib hukumnya ditegakkan kepada siapa saja.

Baik kepada orang yang kita senangi, lebih-lebih kepada orang yang kita benci. Tidak sepaham dengan seseorang mungkin sulit kita hindarkan. Tetapi, tidak berbuat adil kepada orang yang tidak sepemikiran tentu tidak dibenarkan. 

Baca Juga

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA