Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Umar bin Khattab Pernah Singgung Pentingnya Bersihkan Lisan

Selasa 21 Jan 2020 17:23 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

Umar bin Khattab Pernah Singgung Pentingnya Bersihkan Lisan. Foto: Sampul depan buku Sang Legenda Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab Pernah Singgung Pentingnya Bersihkan Lisan. Foto: Sampul depan buku Sang Legenda Umar bin Khattab.

Foto: buku.tokobagus.com
Umar bin Khattab menekankan yang paling berhak dibersihkan orang adalah lisannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Khalifah kedua Islam, Sayyidina Umar bin Khattab RA, pernah menyinggung pentingnya membersihkan lisan bagi setiap insan. Apalagi, tak sedikit manusia yang kerap mengumbar kata-kata yang tak penting, atau berbicara mengenai hal yang tak berguna.

Baca Juga

Dalam kitab Saripati Ihya Ulumiddin karya Syaikh Jamaluddin al-Qasimi disebutkan, Sayyidina Umar pernah berkata: “Sesungguhnya sesuatu yang paling berhak dibersihkan oleh seseorang adalah lisannya,”. Sedangkan dalam atsar diriwayatkan: “Tidaklah diberi sesuatu yang lebih buruk daripada kelebihan perkataannya,”.
Ketahuilah bahwa modal seorang hamba di dunia ini adalah waktu.

Di antara waktunya, Syaikh Jamaluddin menjelaskan, ada yang dipergunakan untuk hal yang berguna dan ada juga yang dipergunakan untuk sia-sia. Tindakan sia-sia itu salah satunya adalah dengan berbicara banyak mengenai hal yang tak berguna.

Imam Ghazali menyebut, tindakan berbicara dengan berlebihan sebagai perbuatan yang tercela. Dan perbuatan ini dapat terjadi dengan berbicara terlalu banyak mengenai hal-hal yang tidak dibutuhkan.

Sesungguhnya orang yang mempunyai keperluan dengan suatu urusan mungkin menyebutkannya dengan perkataan yang ringkas dan mungkin juga mengatakannya dengan berulang-ulang. Beliau menjelaskan, manakala maksud dari ucapannya sudah dapat tersampaikan dengan satu kali perkataan, tetapi yang bersangkutan menyebutkan dua kalimat atau lebih, maka hal ini masuk dalam kategori tindakan tercela tersebut.

Ketahuilah bahwa berbicara berlebihan itu tidak terbatas, tetapi yang paling penting adalah membatasinya dengan pakem agama. Hal ini sebagaimana yang diingatkan Allah dalam Alquran Surah An-Nisa ayat 114, yang artinya: “Tidak ada kebaikan pada banyak bisikan mereka, kecuali (bisikan) orang yang memerintahkan sedekah, kemakrufan, atau perdamaian di antara manusia,”.

Rasulullah SAW pun bersabda yang artinya: “Berbahagialah orang yang menahan kelebihan ucapan dari lisannya dan menginfakkan kelebihan dari hartanya,”. Untuk itu, sebagai umat Muslim, sudah sebaiknya anjuran agama mengenai larangan berbicara banyak yang tak berguna, harus ditinggalkan. Sebaliknya, bila kita memiliki harta yang berlebih, segeralah berinfak dengan niat tulus kepada Allah SWT.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA