Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Palestina Keluhkan Lemahnya Kritik Eropa Terhadap Israel

Rabu 22 Jan 2020 17:37 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Ilustrasi Bendera Israel dan Palestina

Ilustrasi Bendera Israel dan Palestina

Kecaman Uni Eropa terhadap pelanggaran Israel terhadap Palestina dianggap lemah.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Palestina mengeluhkan sikap Uni Eropa yang dinilai lemah dalam mengkritik Israel. Kecaman Uni Eropa terhadap pelanggaran Israel kepada rakyat Palestina juga dianggap lemah.

Baca Juga

"Hanya menolak langkah-langkah Israel di wilayah Palestina yang diduduki adalah langkah pemalu, lemah, dan terlambat," kata Kementerian Luar Negeri Palestina dilaporkan laman kantor berita Palestina, WAFA, Rabu (22/1).

Menurut Palestina, Uni Eropa sebenarnya bisa dengan kuat mengecam langkah-langkah destruktif Israel terhadap wilayah Yerusalem yang diduduki. Hingga kini Israel terus menggusur permukiman warga Palestina di sana.

Proyek penggalian terowongan di Yerusalem juga berlanjut. "Negara Israel telah membentuk semacam kekebalan terhadap tuduhan apa pun oleh Uni Eropa," kata Kementerian Luar Negeri Palestina.

Pada November tahun lalu, Uni Eropa menegaskan menolak dan menentang proyek permukiman ilegal Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Hal itu disampaikan setelah Amerika Serikat (AS) memutuskan tak lagi menganggap ilegal permukiman Israel di sana.

"Posisi Uni Eropa pada kebijakan permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki jelas dan tetap tidak berubah. Semua aktivitas permukiman ilegal di bawah hukum internasional dan itu mengikis kelayakan solusi dua negara serta prospek untuk perdamaian permanen, seperti ditegaskan kembali oleh Resolusi 2334 Dewan Keamanan PBB," kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini pada 18 November lalu.

Saat ini terdapat lebih dari 100 permukiman ilegal Israel di Tepi Barat. Permukiman itu dihuni sekitar 650 ribu warga Yahudi Israel. Masifnya pembangunan permukiman ilegal, termasuk di Yerusalem Timur, dinilai menjadi penghambat terbesar untuk mewujudkan solusi dua negara antara Israel dan Palestina. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA