Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Mahfud: WNI Teroris Pelintas Batas Terbanyak Ada di Suriah

Selasa 21 Jan 2020 20:45 WIB

Red: Bayu Hermawan

Menko Polhukam Mahfud MD

Menko Polhukam Mahfud MD

Foto: Republika/Mimi Kartika
Menkopolhukam mengatakan WNI yang menjadi teroris pelintas batas terbanyak di Suriah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD mengatakan keberadaan Warga Negara Indonesia (WNI) yang diduga menjadi foreign terorrist fighter (FTF) paling banyak ada di Suriah. Mahfud mengatakan terkait keputusan pemulangan atau tidak WNI yang menjadi teroris pelintas batas akan mempertimbangkan banyak aspek.

"Saya tidak hitung paling banyaknya, tetapi kita tadi melihatnya ada di Afganistan, Suriah, Turki. Suriah kayaknya paling banyak," katanya di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (21/1).

Mahfud pada hari yang sama sebelumnya memimpin rapat koordinasi soal penanganan FTF yang dihadiri sejumlah menteri dan pimpinan lembaga terkait di Kantor Kemenko Polhukam. Di antaranya, Menteri Sosial Juliari P Batubara, Menkumham Yasonna Laoly, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius, serta perwakilan dari BIN dan Kemlu.

Mahfud mengakui pemulangan WNI yang terduga menjadi FTF itu tentu menuai beragam reaksi dari masyarakat, ada yang menolak pemulangan karena khawatir, namun ada juga yang menerima sebagai hak warga negara. "Ini nanti kan masyarakat di bawah macem-macem, ada yg bilang enggak boleh dipulangkan, suruh di situ aja. Tetapi, ada yang bilang itu hak warga negara," jelasnya.

Hanya saja, Mahfud mengingatkan bahwa hak warga negara menurut peraturan perundang-undangan juga bisa dicabut. Yang jelas, kata dia, keputusan soal pemulangan atau tidak terhadap WNI yang diduga menjadi teroris pelintas batas itu akan mempertimbangkan banyak aspek.

Mahfud mengakui adanya kekhawatiran dari sejumlah masyarakat bahwa jika mereka dipulangkan akan membuat virus-virus terorisme yang baru di negara asalnya. "Ini kan menyangkut banyak kementerian, Kemensos, misalnya, menampung akibat-akibat sosialnya, Kemenkumham yang soal hukum dan kewarganegaraanya, ada juga pariwisata dan investasi bisa terkena imbas kalau misalnya masih ada ancaman teroris," ujarnya.

Oleh karena itu, Mahfud menyampaikan perlunya membahas seluruh aspek dan pertimbangan-pertimbangan atas nasib FTF itu dengan melibatkan kementerian-kementerian terkait. Sebelumnya, Mahfud menyebutkan setidaknya ada 660 WNI yang diduga sebagai teroris pelintas batas yang saat ini tersebar di berbagai negara. Khusus di Suriah, Mahfud pernah menyebutkan setidaknya tercatat 187 WNI, terdiri atas 31 orang laki-laki, sementara sisanya adalah perempuan dan anak-anak.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA