Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

170 Orang di Lebak Meninggal Akibat HIV/AIDS Sejak 2001

Selasa 21 Jan 2020 20:45 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Israr Itah

HIV/AIDS (Ilustrasi). Sejak 2001, ada 320 warga Lebak yang terjangkit virus HIV.

HIV/AIDS (Ilustrasi). Sejak 2001, ada 320 warga Lebak yang terjangkit virus HIV.

Foto: Flickr
Sejak 2001, ada 320 warga Lebak yang terjangkit virus HIV.

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK -- Sebanyak 170 orang di Kabupaten Lebak, Banten tercatat telah meninggal akibat virus menular Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/Aids). Ratusan korban tersebut merupakan orang dengan HIV dan Aids (odha) yang meninggal sejak periode 2001 hingga 2019 lalu.

Baca Juga

Hal ini dijelaskan Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak, Firman Rahmatullah. Ia mengatakan, sejak 2001, ada 320 warga Lebak yang terjangkit virus ini dan 170 di antaranya meninggal.

“Kami optimalkan terus sosialisasi kepada masyarakat untuk pencegahan virus ini. Sebenarnya jumlah 170 ini masih tergolong sedikit, karena pasti masih banyak yang belum terdata. Sementara para penderita yang bertahan hidup ada 190 orang, mereka terus diberikan penanganan melalui pengobatan berkala untuk memperbaiki kualitas hidupnya,” kata Firman, Selasa (21/1).

Penemuan kasus penderita HIV/AIDS tersebut dikatakannya tergolong rendah, karena target estimasi penderita di Lebak sebanyak 1.500 orang atau 0,01 persen dari 1,2 juta penduduk Kabupaten Lebak. "Targetnya 1.500, tapi yang benar-benar mau berobat rutin dan didata selama ini baru 320 orang. Kendalanya masih di kesadaran orang-orang berisiko untuk memeriksa kesehatannya. Kami sudah mengoptimalkan screening HIV/Aids untuk ibu hamil," jelasnya.

Menurutnya, penyebaran virus HIV/AIDS di wilayahnya ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pergaulan seks bebas, penggunaan jarum suntik atau transfusi darah dari penderita. Namun fenomena saat ini, kata Firman penyebarannya lebih banyak terjadi lantaran adanya perilaku berisiko para heteroseksual.

Dari sebaran penderita juga tidak hanya terjadi di kota besar di Lebak, namun justru sudah merambah ke pedesaan terpencil di daerah selatan Banten ini. Hal ini karena banyak warga pedesaan yang bekerja di kota dan terpengaruh dengan perilaku hidup berisiko.

Firman berharap warga Lebak tidak ragu untuk memeriksakan kosehatannya, terutama bagi masyarakat dengan gaya hidup berisiko. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA