Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Reaksi Nabi Muhammad Ketika Ada Sahabat tak Bisa Berkelahi

Rabu 22 Jan 2020 00:00 WIB

Red: Muhammad Hafil

Reaksi Nabi Muhammad Ketika Ada Sahabat tak Bisa Berkelahi. Foto: Ilustrasi Sahabat Nabi

Reaksi Nabi Muhammad Ketika Ada Sahabat tak Bisa Berkelahi. Foto: Ilustrasi Sahabat Nabi

Foto: MgIt03
Sahabat Nabi Muhammad yang tak bisa berkelahi ini diamanahkan menjaga keluarga Nabi.

REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Suatu ketika, Nabi Muhammad bersama kaum Muslimin berangkat ke Uhud, beliau meninggalkan isti-istri dan bibi beliau, Shafiyyah binti Abdul Muthalib RA. Mereka ditempatkan di sebuah bangunan yang disebut faari di samping Masjid Nabawi.

Nabi meninggalkan mereka dalam bangunan itu dengan dijaga oleh Hassan bin Tsabit RA, penyair Rasulullah. Saat itu, ada seorang Yahudi yang memanjat naik bangunan tersebut.

Ketika Shafiyyah melihatnya, dia berkata kepada Hassan, "Lihatlah orang itu. Dekati ia dan cepat bunuh."

Baca Juga

Namun Hassan menjawab, "Tidak. Aku tidak bisa berkelahi."

Shafiyyah tetap mendesaknya, namun Hassan menjawab, "Aku benar-benar tidak bisa. Jika aku bisa, tentu aku ikut bersama Rasulullah."

Akhirnya Shafiyyah berkata, "Kalau begitu, ikatlah pedang ini di tanganku dan aku tidak akan mendesakmu lagi."

Hassan akhirnya mengikatkan pedang itu di tangan Shafiyyah. Setelah itu, bibi Rasulullah tersebut mendekati pria Yahudi itu. Tanpa banyak kesulitan, dia dapat membunuhnya.

Ketika orang-orang Yahudi yang lain melihat teman mereka yang mengintai itu tewas, mereka jadi takut dan berkata satu sama lain. "Kita salah jika mengira Muhammad meninggalkan keluarganya sendirian tanpa pengawal."

Setelah Nabi Muhammad kembali, dari arena pertempuran, kejadian antara Hassan dan orang Yahudi itu diceritakan Shafiyyah kepada beliau. Nabi Muhammad tertawa mendengarnya hingga gigi depan beliau terlihat.

Shafiyyah tidak pernah melihat keponakannya itu tertawa lebih keras daripada saat itu. Dengan demikian, Shafiyyah binti Abdul Muthalib merupakan wanita pertama yang membunuh seorang kafir.

Meski dalam kisah yang dikutip dari buku Saat-Saat Berkesan Bersama Rasulullah SAW tulisan Syekh Abdul Aziz ASy Syinawi disebutkan Hassan bin Tsabit tak bisa berkelahi dan tak ikut dalam perang Uhud, namun dia adalah seorang sahabat yang membela nabi dengan puisi dan syairnya. Di mana, puisi dan syairnya itu bisa menciutkan nyali para musuh-musuh Islam.

Nabi pernah bersabda tentang Hassan, "Wahai Hassan, sungguh Jibril akan senantiasa mendukung engkau selama engkau meruntuhkan semangat kaum musyrikin itu dengan puisi-puisimu dalam membela Allah dan Rasul-Nya."

Sabda Nabi itulah yang memompa semangat fi sabilllah Hassan bin Tsabit. Kecuali perang Uhud, Hassan disebut hampir tak pernah absen dalam setiap medan peperangan. Dia berada di sisi Rasulullah SAW. Setiap medan laga, dia tampil di hadapan pasukan musyrikin, untuk mengumandangkan sajak-sajak yang menciutkan nyali para musuh.

Hassan bin Tsabit memiliki istri bernama Sirin. Perempuan itu cukup istimewa karena merupakan saudara Maria al-Qibthiyyah, istri Rasulullah SAW yang keturunan Mesir.

Usia Hassan bin Tsabit mencapai 100 tahun. Dia wafat pada 53 tahun sesudah Hijrah. Sebelum memeluk Islam, dia merupakan penyair yang lantang menjelek-jelekkan agama ini. Sesudah menerima hidayah Allah, maka Hassan mengarahkan karya-karyanya untuk membela Islam.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA