Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

'Peristiwa Bunuh Diri Hendaknya Menjadi Kesadaran Nasional'

Senin 20 Jan 2020 19:51 WIB

Rep: my28/ Red: Fernan Rahadi

Pendiri gerakan sekolah menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal

Pendiri gerakan sekolah menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal

Foto: Republika/Eric Iskandarsjah
Perlunya kesadaran menciptakan sekolah sebagai rumah kedua dengan ekosistem positif.

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA -- Peristiwa bunuh diri seorang siswa SMPN 147 Jakarta beberapa waktu lalu memicu keprihatinan banyak pihak. Menurut pengamat pendidikan, Muhammad Nur Rizal, ke depan perlu dipahami bahwa peristiwa ini hendaknya menjadi kesadaran nasional dalam menciptakan sekolah sebagai rumah kedua dengan ekosistem yang positif. 

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) ini menekankan pentingnya terbangun ekosistem positif melalui adanya rasa aman untuk berkembang, rasa berani bereksplorasi, dan bertanya tanpa takut salah. 

“Sehingga, sekolah menjadi rumah kedua sebagai tempat curhat bagi anak untuk mencurahkan permasalahannya. Jangan hanya mengejar nilai ataupun administrasi," kata Rizal kepada Republika saat ditemui dalam kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kepala Sekolah dan Guru Tingkat Sekolah Menengah Pertama di SMK Muhammadiyah Prambanan, Sleman, Senin (20/1).

Rizal menyampaikan pembangunan ekosistem positif ditandai dengan sistem merdeka belajar yang membutuhkan kultur merdeka terhadap guru maupun murid. Akan tetapi, dewasa ini sistem yang ingin dibangun oleh Mendikbud Nadiem Makariem ternyata tidak diikuti oleh pihak daerah sebagaimana penyampaian dari para guru dalam pelatihan tersebut. 

“Pengawas dan Kepala Dinas masih menuntut adanya penilaian serta administrasi yang berlembar-lembar," kata Rizal yang juga merupakan dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Sementara itu, Banyak di antara warganet berspekulasi perbedaan pendapat berkaitan dengan terjadinya upaya bunuh diri tersebut. Rizal membenarkan bunuh diri dapat  dipengaruhi atas dua faktor sebagaimana isu yang berkembang, yakni permasalahan rumah tangga ataupun perundungan (bullying) di lingkungan sekolah yang menjadi pengaruh timbulnya stres pada anak.

“Kedua faktor ini dapat menjadi faktor yang menimbulkan stres bagi anak”, kata Rizal.

Apabila perundungan terjadi di dua tempat, anak tertekan sehingga tidak memiliki rujukan untuk menyandarkan keluh-kesahnya dan dapat kehilangan harapan. Menurut Rizal hal inilah yang menyebabkan kebahagiaan (well being) seorang anak dapat terganggu. Terlebih, anak milenial cenderung memiliki karakteristik mudah rapuh dan daya juang yang kurang. 

Ia menuturkan karakter tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan mendapatkan gratifikasi atau kultur instan yang mendukung suatu tindakan dapat diperoleh dengan cepat. “Sekalipun anak orang yang tidak berpunya, tetapi dapat mengakses internet dapat mengakibatkan mental untuk mendapat sesuatu yang cepat terjadi”, ujar Rizal.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA