Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Tari Sufi Bantu Sembuhkan Depresi Anak-Anak Afghanistan

Senin 20 Jan 2020 06:41 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nora Azizah

Sudah setahun, Fahima Mirzaie mendirikan sekolah tari sufi bagi perempuan di Kabul, Afghanistan. Melalui sekolah tari itu, Mirzaie berharap bisa membantu anak-anak di Afghanistan menemukan kedamaian batin dan melepaskan depresi di tengah perang yang terjadi negara itu (Foto: tarian sufi)

Sudah setahun, Fahima Mirzaie mendirikan sekolah tari sufi bagi perempuan di Kabul, Afghanistan. Melalui sekolah tari itu, Mirzaie berharap bisa membantu anak-anak di Afghanistan menemukan kedamaian batin dan melepaskan depresi di tengah perang yang terjadi negara itu (Foto: tarian sufi)

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Tarian Sufi atau Sama disebut bisa membantu melepaskan depresi.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL --- Sudah setahun, Fahima Mirzaie mendirikan sekolah tari sufi bagi perempuan di Kabul, Afghanistan. Melalui sekolah tari itu, Mirzaie berharap bisa membantu anak-anak di Afghanistan menemukan kedamaian batin dan melepaskan depresi di tengah perang yang terjadi negara itu. Meskipun menari masih dianggap tabu di negara itu.

Ada sekitar 20 gadis di Afghanistan yang mendaftar pada Mirzaie untuk mempelajari sama yakni tarian sufi yang muncul sekitar abad ke-13 dari seorang penyair sufi yang lahir di Afghanistan, Jalaludin Muhammad Rumi. Tarian yang mempunyai gerakan berputar-putar itu telah menyebar luas ke berbagai belahan dunia.

Tarian Sama merupakan bagian dari tasawuf yang menekankan pada pencarian batin terhadap Tuhan. Meski militan yang memandang tradisi tari sufi itu sebagai bidah telah menyerang tempat-tempt suci para tokoh sufi di sejumlah negara. Namun, bagi Mirzaie tarian itu memberikan kedamaian.

"Saya menikmati sama, ketika saya menari itu memberi saya kedamaian. Kesedihan dan kesulitan hidup yang saya alami hilang. Hidup saya dan murid-murid saya telah diubah oleh tari sama. Mereka mendapatkan kepercayaan diri. Bahkan beberapa mereka yang mengalami depresi kini sangat senang," kata Mirzaie yang baru berusia 23 tahun seperti dilansir Al Arabiya pada Senin (20/1).

Sejak pemerintahan Taliban berakhir menyusul invasi Amerika Serikat ke negara itu pada 201, perempuan Afghanistan telah memenangkan hak-haknya. Kendati ada kekhawatiran yang berkembang bahwa kemajuan dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan pekerjaan mungkin akan dibatalkan karena Amerika tengah tertarik bernegosiasi dengan Taliban untuk mengakhiri perang yang terjadi lebih dari 18 tahun.

"Kekhawatiran saya adalah nasib negara kami belum jelas. Lawan kami menyebut kami gila, dan mengatakan praktik seperti itu tak boleh ada, tapi kami akan melanjutkannya di jalan Maulana Rumi," kata Mirzaie.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA