Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Nama Besar, Pengaruh, dan Kebaikan yang Besar

Sabtu 18 Jan 2020 08:37 WIB

Red: Joko Sadewo

Asma Nadia

Asma Nadia

Foto: Daan Yahya/Republika
Petenis Australia ramai-ramai menggunakan beramal untuk kebaikan korban kebakaran.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Asma Nadia

Gajah mati meninggalkan gading. Macan mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama.  Sekilas pepatah ini mungkin terasa jauh , setidaknya dalam konteks kekinian.

Pertama, penjualan gading dan kulit macan dilarang. Pemerintah justru menghancurkan gading dan kulit macan selundupan agar kegiatan mengoleksi peninggalan kedua hewan tersebut tidak  berkembang menjadi kebiasaan yang mewabah.

Kedua. Terkait manusia mati meninggalkan nama. Beberapa teman tidak sepenuhnya sepakat, sebab sekarang kita berada pada era di mana manusia harus mengukir nama saat hidup, bukan menunggu setelah tiada. Hidup yang dimanfaatkan secermat dan sebaiknya, sangat mungkin menghasilkan keabadian. Tidak lekang sosok seseorang, walau dia telah berpulang.

Mungkin perlu hadir istilah baru yang mewakili situasi  milenial: Besarkan namamu, dan gunakan untuk kebaikan.

Menggunakan nama besar untuk kebaikan  baru-baru ini dicontohkan dengan sangat menyentuh oleh para petenis kelas dunia  yang bersatu untuk meringankan korban kebakaran di Australia yang mencapai 28 korban jiwa dan menyebabkan 2.000 rumah terbakar.

Ketika kebakaran melanda dan mencemari udara Melbourne, para petenis tetap hadir dalam grand Slam dan menyemangati warga Australia. Mereka bahkan menggelar acara Rally for Relief, bertanding untuk amal. Pesan kuatnya adalah kami bersama kalian, dan kalian tidak pernah sendirian.

Lebih dari itu mereka menggunakan nama besar yang merupakan investasi tahunan untuk menggalang dana dan mengkampanyekan donasi bagi para korban.

Maria Sharapova, menggalang dana melalui twitter. Awalnya  mendonasikan uang sendiri lalu memancing nama besar lain ikut  berdonasi. “Saya ingin memulai donasi saya US$ 25.000. @JokerNole, maukah berdonasi dengan nilai yang sama dengan saya?”
Sehari kemudian Novac Djokovic yang namanya di-mention membalas twit tersebut dengan menyumbangkan sejumlah dana yang sama.

Tak berhenti di sana, di sela-sela pertandingan WTA Brisbane, Maria Sharapova menandatangani 10 sepatu Nike dan meninggalkan sepatu tersebut di hotel lalu membuat pengumuman di Twitter. “Saya menyimpan amplop. Jika Anda berdonasi 300 dolar maka sepatu itu menjadi milik Anda dan akan disumbangkan ke Palang Merah untuk korban kebakaran.”

Luar biasa, dalam satu jam kemudian terkumpul 3.000 dolar  untuk  para korban kebakaran.

Pada piala ATP Australia, petenis Kyrgios berjanji mendonasikan 200 dolar untuk setiap servis as (pukulan pertama yang begitu keras hingga tidak bisa dikembalikan lawan) yang dia lakukan. Selama pertandingan,  petenis Yunani itu melakukan servis as sebanyak 56 kali. Ini berarti total donasi yang harus dia berikan adalah 11.200 dolar. Petenis lain mengikuti jejaknya. Alex de Minaur menyumbang 250 setiap servis as, John Milman menetapkan 100 dolar untuk setiap servia as, dan Samantha Stosur berdonasi 200 dolar per servis as.

Petenis putri Beinda Bencic asal Swiss memilih cara lebih unik. Ia menyumbang setiap kali melakukan double faulth atau dua kali melakukan kesalahan pada saat melakukan sevis. Alasannya melakukan kesalahan demikian lebih mudah daripada mencapai servis as.

“Kalau saya melakukan double fault, saya tidak akan terlalu marah karena beranfaat buat orang lain,” kelakarnya.

Tercatat ia melakukan 322 double fault dan 204 servis as dalam pertandingan amal tersebut.

Lalu apa yang dilakukan juara tunggal putri Wimbeldon Simona Halep? Ia meminta pelatihnya untuk dengan cermat menghitung setiap kesalahan yang dilakukan saat petandingan tersebut, untuk satu  langkah yang menggecewakan sang pelatih, ia menyiapkan donasi 200 dolar.

“Dengan cara ini akan banyak uang yang disumbangkan.”

Sumbangan terbesar diberikan dua petenis terbaik Rafael dan Federer, senilai $ 250.000 atau sekitar  2,3 miliar rupiah.

Berlomba-lomba dalam kebaikan, sebuah prinsip yang seharusnya dekat dengan seorang muslim. Apa yang dilakukan para petenis dunia tersebut seharusnya menimbulkan rasa malu yang menjangkiti setiap muslim, khususnya yang dikaruniai nama dan kemampuan besar untuk berbuat sesuatu ketika musibah terjadi dan menimbukkan korban.

Indah sekali menyaksikan walau hanya dari jauh, bagaimana para petenis hebat tersebut saling mencari pendekatan unik dalam menyumbang dan menggalang dana. Cara  mereka berdonasi kemudian menjadi daya tarik sendiri yang menggerakkan sosok-sosok hebat lain terinspirasi untuk berlomba lomba menyumbang.

Jika di sana terjadi kebakaran hebat,  Indonesia justru didera banjir. Seandainya mampu memindahkan hujan ke Australia atau negara lain yang sangat membutuhkan, tentu sudah  kita lakukan. Sayang, keterbatasan teknologi saat ini, membuat harapan tersebut sebatas keinginan.

Lalu apa yang berbeda dari dua musibah terkait kondisi alam, di Australia dan Indonesia?
Gerakan yang dilakukan para petenis dunia membuat saya merenung.

Ketika banjir terjadi, seberapa banyak influencer, youtuber, selebgram, tokoh politik, tokoh pemerintah, dan selebriti  paling terkenal kita  berlomba-lomba menggunakan nama besar dan pengaruhnya demi membantu korban?

Ada, tapi kita membutuhkan jauh lebih banyak jejeran orang-orang hebat yang   mencoba berbuat, hingga menimbulkan publikasi dahsyat  yang mendominasi ranah media termasuk media sosial.

Ironisnya,  headline dan berita  terkait bencana alam yang terjadi, justru lebih didominasi oleh ujaran kebencian, saling menyalahkan yang  sebenarnya dilandasi pada kepentingan politik. Beberapa pihak  bahkan tidak sungkan menjadikannya sebuah komoditi.

Duh, nasib Indonesia kita. Sedih.

Semoga, nama besar, pengaruh besar yang mencipta kebaikan yang besar, jika bukan saat ini, kelak akan menjadi sebuah rutinitas massive. Tradisi spontan yang dilakukan berbondong-bondong putera-puteri  terbaik Indonesia, ketika  sebuah musibah terjadi dan lukisan panjang penderitaan korban,  terpajang di depan mata.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA