Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Jakarta Masih Andalkan Sumber Air dari Tanah

Jumat 17 Jan 2020 23:30 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Gedung perkantoran di Jakarta (ilustrasi)

Gedung perkantoran di Jakarta (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
Pengadaan air dari saluran perpipaan belum menjangkau seluruh kawasan di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penduduk Provinsi DKI Jakarta masih mengandalkan air dari tanah sebagai sumber air bersih untuk keperluan sehari-hari dan belum beralih ke air yang berasal dari saluran perpipaan.

Sementara sejumlah peneliti sudah memprediksi Jakarta tenggelam pada 2050 akibat penurunan muka tanah (land subsidence) karena penggunaan air tanah sebagai salah satu faktornya.

Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (Citata) DKI Jakarta Heru Hermawanto saat dihubungi, Jumat (17/1) mengemukakan, pengadaan air dari saluran perpipaan belum menjangkau seluruh kawasan di Jakarta sehingga ketergantungan pada air tanah pun masih dilakukan oleh masyarakat.

"Sumber air itu problem milik DKI. Artinya kebutuhan air bersih Jakarta solusinya dipenuhi oleh daerah lain," kata dia.

"Karena kalau ngandelin Jakarta ya cuma punya air bawah tanah. Kan problem ini. Selama penduduknya besar, terus bangunan banyak, ya mau nggak mau ketersediaan dari air tanah karena belum tersedia air dari saluran perpipaan," kata Heru.

Air dari saluran perpipaan seharusnya dapat perlahan-lahan ditingkatkan untuk penggunaan masyarakat Jakarta karena lambat laun penurunan muka tanah di Jakarta terus berlangsung.

Hal itu akibat pola penggunaan air tanah besar-besaran yang menjadi salah satu faktor Jakarta diprediksikan tenggelam di tahun 2050.

Saat ini, menurut Heru, layanan air perpipaan baru dirasakan oleh 40-60 persen penduduk baik di pemukiman maupun gedung-gedung bertingkat seperti pusat perbelanjaan dan kantor.

"Sekarang layanan air pipa yang tersedia sekitar 40 sampai 60 persen. Masyarakat ya tetap masih bergantung air tanah," katanya.

"Contoh deketnya sekitar kita permukiman pasti pada pakai air tanah kan? Apalagi gedung- gedung pemukiman yang tinggi," kata dia.

"Itu menampung KK banyak ya nyedot airnya lebih banyak kalau saluran air pipanya belum masuk," kata Heru.

Selaras dengan Dinas Citata DKI, Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pun membenarkan penggunaan air tanah masih tinggi di Jakarta.

"Ya masih banyak yang pakai air tanah, namun yang jelas kami akan mengupayakan penggunaan air tanah perlahan-lahan dikurangi dan masyarakat menggunakan air pipa," kata Sekretaris SDA DKI Dudi Gardesi.

Meski demikian, Dudi belum mengetahui secara detail upaya lebih lanjut karena sebelumnya masalah air bersih di Jakarta dipegang oleh Dinas Perindustrian dan Energi DKI yang saat ini dilebur dengan Dinas Ketenagakerjaan DKI.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI Sri Sunarti Purwaningsih mengatakan penurunan muka tanah imbas perubahan iklim global menjadi ancaman serius bagi warga kawasan pesisir Jakarta karena dapat mengalami kehilangan atau kerusakan harta benda.

Para ahli telah memprediksi permukaan air laut akan naik 25 hingga 50 sentimeter (cm) tahun 2050 dan pada 2100 air laut akan menggenangi sebagian besar kota pesisir di Indonesia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA