Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Rouhani Desak Penarikan Pasukan Asing dari Timur Tengah

Kamis 16 Jan 2020 09:28 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Presiden Iran Hassan Rouhani

Presiden Iran Hassan Rouhani

Foto: Iranian Presidency Office via AP
Rouhani memeringatkan pasukan asing dalam bahaya jika tetap berada di Timur Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Presiden Iran Hassan Rouhani mendesak negara asing untuk menarik pasukan mereka dari Timur Tengah. Dia memperingatkan mereka mungkin dalam bahaya jika tetap di wilayah tersebut, Rabu (15/1).

Baca Juga

"Hari ini, tentara Amerika dalam bahaya, besok tentara Eropa bisa dalam bahaya," kata Hassan Rouhani dalam pidato yang disiarkan televisi.

Komentar Rouhani menandai pertama kalinya ancaman terhadap negara-negara Eropa di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS). Komentar itu muncul sehari setelah Inggris, Prancis dan Jerman menantang Teheran karena melanggar batas-batas kesepakatan nuklir yang ditandatangani antara Iran dan enam negara pada 2015.

Dikutip dari Aljazirah, Rouhani mendesak kekuatan Eropa untuk memenuhi komitmen mereka dalam perjanjian nuklir dan tidak menyerah pada tuntutan Amerika Serikat. Dia menekankan semua langkah yang diambil Iran dalam menanggapi penarikan AS dari kesepakatan itu dapat dibalik.

Sedangkan, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menuduh pihak-pihak Eropa melanggar ketentuan-ketentuan kesepakatan yang telah dibuat. "Mereka tidak membeli minyak dari kami, semua perusahaan mereka telah ditarik dari Iran. Jadi Eropa melanggar," kata Zarif dalam konferensi di New Delhi pda Rabu.

Zarif mengatakan, masa depan kesepakatan sekarang tergantung pada Eropa. "Uni Eropa adalah ekonomi global terbesar. Jadi mengapa Anda mengizinkan Amerika Serikat menggertak Anda?" ujarnya.

Negara-negara Eropa mengumumkan mereka memicu mekanisme sengketa yang diatur dalam perjanjian penting untuk memaksa Teheran menghormati komitmennya pada Selasa. Perjanjian itu secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) dan Presiden AS Donald Trump secara sepihak mengundurkan diri pada 2018.

Gesekan di wilayah itu meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah serangkaian serangan di wilayah Teluk. Kekhawatiran perang habis-habisan muncul pada awal Januari setelah serangan udara AS menewaskan komandan militer Iran Qassem Soleimani di Baghdad, mendorong serangan balasan rudal Iran terhadap AS di Irak.

Pasukan Eropa telah dikerahkan bersama pasukan AS di Irak dan Afghanistan. Prancis juga memiliki pangkalan angkatan laut di Abu Dhabi, Uni Emirate Arab, sementara Inggris telah membuka pangkalan di negara kepulauan Bahrain.

Juru bicara Komisi Eropa Peter Stano mengatakan, para pejabat mengetahui ancaman itu, tetapi Uni Eropa tidak memiliki rencana untuk meninggalkan Irak. Menteri Pertahanan Italia Lorenzo Guerini mengatakan kepada anggota parlemen bahwa pemerintahnya memiliki rencana untuk meningkatkan jumlah pasukan Roma di Selat Hormuz.

Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer memilih melakukan kunjungan mendadak ke pangkalan Azraq di Yordania, tempat pasukan Jerman bertugas dalam perang melawan kelompok ISIS. Jerman ingin melanjutkan pelatihan pasukan Irak. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA