Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Apindo: Ekspor Indonesia Lebih Baik Tahun Ini

Rabu 15 Jan 2020 18:01 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani.

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Total ekspor pada 2019 tercatat sebesar 167,53 miliar dolar AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meyakini ekspor Indonesia tahun ini akan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Amerika Serikat (AS) dan China dinilai memberikan preferensi sekaligus membuka peluang ekspor Tanah Air untuk masuk.

"Di samping itu dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) memberikan dukungan yang sangat intens sekali. Di antaranya membuka pasar hubungan dengan kamar dagang AS, bekerja secara lebih fokus menurut saya jadi lebih sistematis mudah-mudahan akan lebih baik," ujar Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani kepada wartawan di Jakarta, Rabu, (15/1).

Untuk sektor pertambangan mineral, lanjut dia, juga akan banyak smelter yang menambah fasilitasnya untuk mendukung ekspor Indonesia. Berbagai upaya yang dilakukan itu, menurutnya, sistematis dengan kamar dagang AS dalam rangka mengalihkan impor AS dari China ke Indonesia.

"Jadi lebih terarah untuk program kita tahun ini. Kita kan tahun lalu persiapannya, nah 2020 (realisasinya), di samping itu kita lihat juga dari sisi ekspor mineral mulai naik karena smelternya kan ada penambahan kapasitas di beberapa perusahaan," tuturnya.

Penetrasi Indonesia di ASEAN pun, kata dia, sudah mulai berjalan. Menurutnya, selama ini Indonesia tidak pernah terlalu memikirkan pasar ASEAN, namun sekarang mulai memberikan upaya besar untuk masuk pasar tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka defisit neraca perdagangan Indonesia pada 2019 mengalami penurun tajam, yakni sebesar 3,2 miliar dolar AS. Total ekspor pada periode Januari sampai Desember 2019 tercatat sebesar 167,53 miliar dolar AS dan impor 170,72 miliar dolar AS.

BPS menyebutkan, defisit masih terjadi karena neraca perdagangan migas masih surplus sebesar 6 miliar dolar AS, namun impor sepanjang 2019 mengalami defisit 9,3 miliar dolar AS. Hal itu disebabkan oleh kenaikan harga minyak.

Adapun perdagangan Indonesia sepanjang 2019 mengalami surplus ke beberapa negara, yaitu Amerika Serikat, India, dan Belanda. Sedangkan, perdagangan dengan beberapa negara mengalami defisit, di antaranya ke Australia, Thailand, dan China.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA