Kamis, 5 Jumadil Akhir 1441 / 30 Januari 2020

Kamis, 5 Jumadil Akhir 1441 / 30 Januari 2020

Malari

Di Tengah Pusaran Aksi Malari (Malapetaka 15 Januari) 1974

Rabu 15 Jan 2020 17:45 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Hariman Siregar, Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ketua Dewan Mahasiswa UI 1974.

Hariman Siregar, Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ketua Dewan Mahasiswa UI 1974.

Foto: Istimewa
Kisah aksi mahasiswa damai berubah jadi kerusuhan di awal Orde Baru

Oleh: Amir Husin Daulay dan Imran Hasibuan, Jurnalis Senior Penulis Buku "Hariman dan Malari"

Lima belas Januari 1974. Siang itu, rapat dewan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kampus Universitas Trisakti ditutup, dipercepat karena hembusan berita terjadinya kerusuhan di beberapa wilayah Jakarta. Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa UI, segera memutuskan segera kembali ke kampus UI di Salemba. Ia didampingi dua aktivis mahasiswa UI lainnya: Sylvia Tiwon dan Ibrahim G. Zakir. Mereka mengendarai “mobil khusus DMUI”.

“…Hariman minta diantar secepatnya ke Salemba. Bertiga, dengan Bram Zakir, kami meluncur ke kampus UI, masing-masing dengan diam dengan bayangan sendiri, mencoba memahami berita bahwa wilayah Senen sedang dilanda kerusuhan besar-besaran, dengan massa yang entah datang dari mana, membakar mobil, merusak gedung.”

Kenangan itu masih tertancap kuat dalam ingatan Sylvia Tiwon. “Hariman yang tak pernah menyukai atribut apapun, melepas jaket kuning dan lencana Ketua DMUI. Di depan RSCM, Jalan Diponegoro, sudah dipenuhi massa sehingga mobil tak dapat memasuki halaman kampus UI.

Sebelum kami sempat memutuskan untuk balik arah memasuki halaman parkir rumah sakit, Hariman sudah lompat keluar dan lari—sendiri—menuju perempatan Diponegoro—Salemba. Barangkali image Hariman inilah yang tak akan lepas dari ingatan: seorang anak muda berdiri di tengah jalan, tangan melambai-lambai, berusaha menghentikan truk penuh massa manusia yang mengalir ke arah Senen. Tak lama kemudian, ia hilang dari penglihatan, tertelan jejalan orang yang semakin berbondong…….”

                       *****
Ketika hari memasuki malam, sirine ambulans 118 terus meraung bolak-balik dari berbagai lokasi ke Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RS-CM). Suara tembakan masih terdengar sampai pukul 20.00, terutama di sekitar Salemba dan Se-nen. Jam malam sesungguhnya sudah diumumkan berlaku sejak pukul 18.00 hingga pukul 6.00 pagi. Tapi, massa masih memadati jalan sepanjang Matraman, Salemba, dan Kramat Raya.
Selasa malam itu, 15 Januari 1974, dua orang lagi tewas di depan kantor Departemen Pertanian.

Mereka tertembak peluru aparat keamanan yang berupaya membubarkan kerumuman massa. Baru pukul 1 dinihari kemudian mayatnya bisa diangkut oleh ambulans ke kamar jenazah RSCM.

Jakarta terbakar. Dua hari berturut-turut: sejak Selasa (15 Januari) hingga Rabu (16 Januari). Asap mengepul di hampir setengah bagian kota. Mulai dari Roxy (di Jakarta Barat), Cempaka Putih dan Bypass (di Jakarta Pusat), Glodok (Jakart Barat), hingga Jalan Sudirman dan Matraman (di Jakarta Selatan). Api paling besar melahap pusat pertokoan di kawasan Senen (Jakarta Pusat) yang dibangun tahun 1967 dengan dana Rp 2,7 miliar. Dua blok bangunannya yang berlantai empat berisi 700 toko, 3 bank (BBD, BNI 46, dan BPD Jaya), satu klub malam, taman ria anak-anak, fasilitas sauna, tempat permainan bowling, dan unit perkantoran PT Pem-bangunan Jaya gosong disapu si jago merah.

Menhankam/Pangab Jenderal Maraden Panggabean, ke-pada sidang pleno DPR yan digelar 21 Januari 1974, melaporkan sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor rusak atau dibakar, 144 buah gedung rusak atau terbakar (termasuk pabrik Coca Cola), dan 160 kilogram emas hilang dari sejumlah toko perhiasan. Dalam kerusuhan dua hari itu jatuh korban 11 orang meninggal, 177 mengalami luka berat, 120 mengalami luka ringan, dan 775 orang ditangkap.

Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, saat memberi penjelasan di hadapan guru-guru se-Jakarta yang juga dihadiri oleh Wapang Kopkamtib Laksamana Sudomo serta Muspida Jakarta di gedung Jakarta Theater, 19 Januari, menyebut angka-angka berbeda: 522 buah mobil dirusak dengan 269 di antaranya dibakar, 137 buah motor dirusak (94 buah dibakar), 5 buah bangunan dibakar ludes termasuk 2 blok proyek Pasar Senen bertingkat 4 serta gedung milik PT Astra di jalan Sudirman, juga 113 buah bangunan lainnya dirusak.

Mengenai pembakaran dan pengrusakan pada Peristiwa Malari itu, Hariman Siregar mengatakan “Berbagai aksi pembakaran dan pengrusakan oleh massa itu sudah di luar kendali mahasiswa. Begitu sore hari ada kebakaran di Pasar Senen, saya sudah mikir pasti ada yang menunggangi aksi mahasiswa.”

Hari itu, 15 Januari 1974, sejak pagi hingga sore mahasiswa Jakarta, Bogor, Bandung didukung pelajar sibuk melakukan demonstrasi. Mereka berjalan dari Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta Pusat, menuju Universitas Trisakti di Grogol, Jakarta Barat. Sebagian tokohnya sudah kelelahan karena ber-demonstrasi menyambut kedatangan PM Jepang, Tanaka, pada Senin malam. “Siangnya, karena capek saya pulang bareng Djodi Wuryantoro naik motor, baru jam 4 sore ditelepon Hariman. Katanya ada bakar-bakaran,” kisah Gurmilang Kartasasmita, salah satu pimpinan rombongan dari UI hari itu.

Mimbar bebas di Trisakti sebagai bagian dari apel mahasiswa belum usai benar sesungguhnya ketika Gurmilang pulang. “Saya juga pulang duluan ke kost dekat kampus di Grogol, ka-rena memang sudah ngantuk sekali,” ujar Jesse A. Monintja, mantan aktivis KAPPI yang kala itu tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Trisakti. Ia baru tahu adanya huru-hara sete-lah seorang kawannya menggedor pintu kamar. Jesse bergegas menuju Balai Budaya, tempat ia biasa berkumpul dengan aktivis lain, dan bertemu Fikri Jufri (wartawan Tempo). Keduanya lalu berboncengan skuter melihat situasi.

“Intinya, kami tidak tahu sama sekali bagaimana kerusuhan bisa terjadi,” timpal Judilherry Justam, mantan Sekjen Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI).

Judil adalah pemimpin rombongan paling depan dalam long march UI—Trisakti. Ia bertahan mengikuti acara apel betul-betul kelar. Menjelang acara berakhir, tersiar desas-desus tentang adanya kendaraan dirusak dan dibakar di beberapa jalan. Situasi agak menegang di sebagian mahasiswa. Selewat tengah hari, mahasiswa memutuskan kembali ke UI menumpang truk-truk yang dihentikan. Ketika tiba di jalan dekat Museum Nasional, jalanan sudah ditutup tentara. Truk lalu dibelokkan ke Harmoni dan Jalan Juanda. Namun, sepanjang Harmoni menuju Senen waktu itu belum terjadi apa-apa. Setiba di kampus, baru didengar kabar: Senen dibakar. Mahasiswa pun memilih bertahan di kampus, seorang pun tidak diijinkan keluar.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA