Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020

Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020

Petani di Wajo Rasakan Manfaat Program IPDMIP

Selasa 14 Jan 2020 21:16 WIB

Red: Muhammad Hafil

Petani Rasakan Manfaat Program IPDMIP. FotoL Ilustrasi lahan pertanian

Petani Rasakan Manfaat Program IPDMIP. FotoL Ilustrasi lahan pertanian

Petani mendapat pelatihan dari program IPDMIP.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Program Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Project (IPDMIP) dirasakan manfaatnya oleh petani dan penyuluh.

"Penyuluh menjadi lebih komunikatif dengan petani dan lebih akrab, sehingga lebih mudah dalam menyampaikan inovasi teknologi," kata Kepala Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo, Abdul Hamid, Selasa (14/1).

IPDMIP merupakan program pembangunan dikelola secara terintegrasi dengan melibatkan peran sejumlah instansi. Yaitu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Dalam Negeri, Bappenas dan Kementerian Pertanian yang dijalankan melalui oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP).

BPPSDMP melaksanakan berbagai kegiatan pemberdayaan bagi petani dalam upaya meningkatkan produktivitas usahatani padi di daerah irigasi. Di antaranya pemberdayaan petani yang dilakukan melalui penguatan kemampuan penyuluh pertanian agar sejumlah teknologi yang direkomendasikan diterapkan khususnya untuk tanaman padi dan komoditas bernilai ekonomi tinggi di daerah irigasi.

Salah satu pasangan petani yang merasakan manfaat program ini yaitu Yusri (52) dan Indotang (42) asal Kelurahan Wallennae, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Menurut Yusri, kegiatan IPDMIP bisa meningkatan hasil produksi sawah padinya hasil dari kegiatan cetak sawah Kementan tiga tahun yang lalu.

"Dulu sebelum ikut Sekolah Lapangan (SL) saya belum tahu jenis pupuk dan bagaimana cara pemupukan yang baik, sekarang sudah tahu pemupukan yang berimbang bahkan bisa membuat pupuk sendiri", ujarnya.

Sementara istrinya, Indotang mengatakan, produksi padi yang dulunya hanya mendapatkan 30 karung dalam 60 are atau kurang dari 1 hektar, kini menjadi 80 karung. "Dulu saat produksi sedikit, untuk mencukupi kebutuhan beras sehari-hari tidak cukup, sekarang berlebihan bahkan bisa menjual kepasar. Dan itu bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan bisa untuk biaya sekolah ketiga anak yang salah satunya kini di perguruan tinggi. Alhamdulillah, pendapatan kami meningkat dan lebih sejahtera dibanding dahulu", ucap Indotang.
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA