Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Tekan Impor Biosolar, Pertamina Sumbar Salurkan Biodiesel

Selasa 14 Jan 2020 17:31 WIB

Rep: Febrian Fachri/ Red: Gita Amanda

Pertamina berupaya mendukung kebijakan Pemerintah menekan impor biosolar. Foto PT Pertamina (Persero) Integrated Terminal Balongan melakukan penyaluran perdana Biosolar B30, (ilustrasi).

Pertamina berupaya mendukung kebijakan Pemerintah menekan impor biosolar. Foto PT Pertamina (Persero) Integrated Terminal Balongan melakukan penyaluran perdana Biosolar B30, (ilustrasi).

Foto: Foto: Dok MOR III
Pertamina berupaya mendukung kebijakan Pemerintah menekan impor biosolar.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I berupaya mendukung kebijakan Pemerintah untuk menekan angka impor khususnya pada biosolar. Khususnya di Sumatera Barat, Unit Manager Comm, Rel & CSR MOR I Roby Hervindo mengatakan Integrated Terminal Teluk Kabung di Kota Padang mulai mengimplementasikan Biodiesel 30 persen (B30) per tanggal 4 Januari 2020. Implementasi ini setelah sebelumnya dilakukan pengujian B30 di beberapa Fuel Terminal (FT) milik Pertamina.

Penerapan B30 ini menurut Roby mengacu pada keputusan Menteri ESDM No 227 Tahun 2019 tentang penetapan komposisi FAME dari B20 menjadi B30. “Setelah uji coba B30 di Sumatera Utara sukses pada Desember 2019 lalu, awal tahun 2020 di Sumatera Barat mulai disalurkan B30 melalui Integrated Terminal Teluk Kabung,” kata Roby, melalui siaran pers yang diterima Republika, Selasa (14/1).

Roby menambahkan sebelum disalurkan, Pertamina MOR I melakukan uji kelayakan produk B30 di Laboratorium Quality and Quantity Integrated Terminal Teluk Kabung. Hasilnya, B30 dinyatakan memenuhi persyaratan spesifikasi.

Integrated Terminal Teluk Kabung mendapat pasokan Fatty Acid Mathyl Ester (FAME) dari PT Ciliandra Perkasa. Roby menambahkan hingga saat ini, Integrated Terminal Teluk Kabung telah menyalurkan B30 sebanyak 2.712 kilo liter per hari untuk 136 SPBU di 18 kota dan kabupaten Sumatera Barat, kemudian di Kota Pekanbaru, serta Kota Dumai, Riau.

Roby menjelaskan penggunaan B30 juga berdampak baik pada lingkungan karena mengurangi emisi gas rumah kaca. Pemerintah RI dan EPA Environmental Protection Agency (EPA) di AS menurut Roby telah melakukan studi komprehensif emisi gas buang di mesin diesel. Kesimpulannya menunjukkan penurunan emisi gas buang untuk berbagai tingkat campuran biodiesel termasuk B30.

“Kami ingatkan kembali bahwa Biosolar B30 tergolong BBM bersubsidi. Yang peruntukannya hanya bagi usaha mikro, kapal nelayan dan pertanian. Juga bagi kendaraan transportasi darat, kecuali mobil barang untuk pengangkutan hasil kegiatan perkebunan dan pertambangan dengan jumlah roda lebih dari enam buah," ujar Roby.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA