Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Magis Mourinho Seperti Menghilang Bersama Spurs

Senin 13 Jan 2020 06:31 WIB

Red: Andri Saubani

Pelatih Tottenham Hotspur Jose Mourinho pada pertandingan Liga Inggris melawan Liverpool di London, Inggris, Sabtu (11/1).

Pelatih Tottenham Hotspur Jose Mourinho pada pertandingan Liga Inggris melawan Liverpool di London, Inggris, Sabtu (11/1).

Foto: AP Photo/Matt Dunham
Tottenham Hotspur tampil inkonsisten di bawah asuhan Jose Mourinho.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Frederikus Bata

Pada 2010 silam, Jose Mourinho pernah menhentak dunia. Pertama kali ia membawa Inter Milan meraih juara di tiga kompetisi berbeda.

Baca Juga

Gemilang bersama Inter, Mourinho kmueidn dipinang Real Madrid. Tiga musim bersama El Real, sosok yang menjuluki dirinya the Special One hanya mampu meraih trofi domestik. Gaya bermainnya yang pragmatis kurang disukai publik El Real.

Pada 2013, arsitek asal Portugal kembali ke Chelsea. Bersama the Blues pada edisi kedua, Mou sempat merasakan gelar Liga Primer Inggris. Tepatnya pada musim 2014/2015.

Di pengujung 2015, Mourinho mengalami momen kelam. Pasukan London Biru yang dipimpinnya, mendapat sembilan kekalahan dari 16 laga Liga Inggris. Fakta demikian membuat yang bersangkutan keluar dari Stamford Bridge.

Tak butuh waktu lama bagi taktikian Portugal menganggur. Pada Mei 2016, Mourinho bergabung dengan Manchester United. Seperti biasa, semua berjalan manis pada awalnya.

Pada musim 2016/2017, ia membawa Iblis Merah meraih gelar Piala Carabao, dan Liga Europa. Pada musim 2017/2018, ia sempat membawa United finish di tangga kedua kompetisi terelit Negeri Ratu Elizabeth II, di bawah Manchester City.

Pihak klub masih mempertahankannya. Mourinho mulai menjalani hari-hari yang sulit pada musim 2018/2019. Pada akhirnya pada Desember 2018, ia dipecat lantaran cuma meraih tujuh kemenangan dari 17 partai liga domestik.

Cabut dari Old Trafford, Mourinho memilih beristirahat. Ia aktif di berbagai sisi lain dalam dunia sepak bola. Terkadang jadi bintang tamu atau pengamat di televisi.

Rupanya gairah Mou untuk menjadi pelatih masih meledak-ledak. Ia sempat dikaitkan dengan sejumlah tim elite seperti Madrid, Inter, hingga Bayern Muenchen. Pada November 2019, ia menerima pinangan Tottenham Hotspur.

photo
Jose Mourinho dan jersey Tottenham Hotspur.


Sebuah fenomena baru. Seorang yang menjuluki dirinya the Special One bergabung dengan tim tanpa sejarah prestisius. Di lain pihak, Spurs sedikit berjudi ketika memilih Mou.

Tim tersebut mulai terbiasa dengan sepak bola menyerang ala Mauricio Pochettino. Debut Mourinho berjalan mulus. Ia membawa the Lilywhites mengalahkan West Ham United 3-2.

Selanjutnya ia meloloskan pasukan London Utara ke babak 16 besar Liga Champions. Namun di liga domestik, perlahan tapi pasti, Spurs mulai inkonsisten meraih kemenangan.

Dalam 10 pertandingan, Harry Kane dan rekan-rekan hanya lima kali mendapat hasil maksimal. Selebihnya Spurs tumbang di empat laga, sisanya imbang.

Teranyar, Tottenham ditumbangkan 0-1 Liverpool di markas sendiri. Seusai pertandingan, Mourinho tak terlalu meratapi hasil tersebut.

"Saya pikir kami telah mencoba segalanya. Kami melawan tim terbaik dunia," ujarnya, dikutip dari Sports Mole, Ahad (12/1)

Nama besar Mourinho kini dipertaruhkan. Ia berpotensi gagal membawa Tottenham minimal berada di zona Liga Champions. Dengan mengantongi 30 poin, Lucas Moura dkk tertinggal sembilan poin dari Chelsea di tangga keempat.

Bukan sekadar hasil di klasemen, pendekatan taktikal Mou mulai tidak diterima penggemar Spurs. Sejumlah pengamat melihat hal itu.

"Jose tidak cocok dengan gaya Tottenham. Jika anda melihat statistik, sulit baginya di sini," ujar mantan gelandang Liverpool dan Spurs, Jamie Redknap, dikutip dari Sky Sports.

Mourinho pun harus dihadapkan pada kondisi dilematis antara harus memilih menerapkan idealismenya atau membuka diri untuk pendekatan baru terkait taktik. Alasannya, Spurs sudah sangat fasih memainkan penguasaan bola ala sepak bola modern.

Itulah mengapa dalam beberapa tahun terakhir, pelatih seperti Josep Guardiola, Juergen Klopp, hingga Pochettino lebih mendapat tempat di penikmat sepak bola.

"Saya tidak yakin penggemar akan menerima gaya permainan pragmatis miliknya. Mereka menginginkan hiburan pekan demi pekan," tutur mantan kapten United, Garry Nevile, mengomentari taktik Mourinho.

photo
Mourinho Kembali

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA