Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

BI: QRIS tak akan Gantikan Peredaran Uang

Ahad 12 Jan 2020 07:21 WIB

Red: Friska Yolanda

Petugas mengecek uang tunai sebelum didistribusikan melalui kantor cabang dan mesin ATM (ilustrasi). Bank indonesia menyebut kebutuhan uang tunai masih ada meskipun pemerintah gencar menyosialisasikan pembayaran digital QRIS.

Petugas mengecek uang tunai sebelum didistribusikan melalui kantor cabang dan mesin ATM (ilustrasi). Bank indonesia menyebut kebutuhan uang tunai masih ada meskipun pemerintah gencar menyosialisasikan pembayaran digital QRIS.

Foto: Muhammad Adimaja/Antara
Lokasi geografis yang berbeda mendorong peredaran uang tetap tumbuh.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Bank Indonesia (BI) menegaskan gencarnya sistem pembayaran berbasis digital seperti QRIS tidak akan sampai memberhentikan peredaran uang logam dan kertas dalam bertransaksi di Indonesia. Direktur Eksekutif Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran (DPSP) BI Pungky Purnomo Wibowo mengatakan hal tersebut terjadi karena transaksi nontunai belum dapat menjangkau hingga seluruh lapisan masyarakat.

“Lokasi geografis kita kan juga berbeda dan tergantung dengan infrastrukturnya, jadi uang logam dan kertas harus tetap ada dan bertumbuh,” katanya di Makassar, Sabtu (11/1).

Ia mengatakan, tidak semua orang memiliki telepon genggam. Sehingga, peredaran uang tetap terjadi. Namun, dengan maraknya transaksi pembayaran menggunakan QR Code seperti QRIS dampak yang akan terjadi adalah menurunnya pertumbuhan peredaran uang.

"Uang itu tetap ada dan bertumbuh tapi tumbuhnya pelan banget,” ujarnya.

Sebagai informasi, Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) yang diluncurkan oleh BI pada 1 Agustus 2019 hingga kini telah menyasar 1,7 juta pedagang (gerai). QRIS tersebut merupakan pemersatu QR code yang akan dipindai oleh perangkat elektronik untuk alat pembayaran seperti Gopay, OVO, Linkaja dan DANA.

QRIS mempunyai dua model yakni berbasis customer presented model (CPM) yaitu merupakan sistem pembayaran yang transaksinya dilakukan oleh pembeli dengan menunjukkan QRIS nya kepada pedaaang (gerai/merchant). Selanjutnya, QRIS berbasis merchant presented mode (MPM) yang sistem penggunaannya yaitu merchant menunjukkan QRIS kepada pembeli saat bertransaksi.

Bank Indonesia menargetkan 15 juta gerai (merchant) untuk menggunakan QRIS pada 2020. Secara keseluruhan, QRIS akan menyasar lima persen dari total UMKM di Indonesia yang sekitar 60 juta.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA