Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Kebakaran Hutan, Panitia Kukuh Gelar Balap F1 di Australia

Ahad 12 Jan 2020 02:03 WIB

Rep: Muhammad Ikhwanuddin/ Red: Endro Yuwanto

Kebakaran hutan di Australia

Kebakaran hutan di Australia

Foto: Youtube
Seri balap pembuka musim 2020 itu akan dijadwalkan digelar 13-15 Maret.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- CEO Korporasi Grand Prix (GP) Australia, Andrew Westacott percaya diri balapan pembuka F1 di Melbourne tetap dapat dilaksanakan meski saat ini terdapat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) parah di Australia. Seri balap pembuka musim 2020 itu akan dijadwalkan digelar 13-15 Maret di Sirkuit Grand Prix Melbourne.

Andrew pun mendengar banyak pihak yang meragukan jalannya balapan seiring dengan kebakaran yang terjadi. Kendati demikian, ia bersikukuh menyatakan Melbourne dalam kondisi aman. "Melbourne tidak terdampak kebakaran, titik api berada jauh di timur, 200 atau 300 kilometer jauhnya dari sini," kata Andrew seperti dilansir PlanetF1, Sabtu (11/1).

Di satu sisi, Andrew tak menampik adanya perubahan arah angin dan penurunan kualitas udara. Ia memilih menunggu perkembangan selama kurang lebih dua bulan sebelum balapan dimulai.

"Tidak ada yang tahu ada apa dua bulan mendatang. Dari lokasi titik api yang ada, memang ada kemungkinan mempengaruhi grand prix. Kami tetap menganggap balapan ini adalah bagian dari bisnis," kata Andrew.

Mewakili pihaknya, Andrew menyampaikan belasungkawa pada korban karhutla di Australia. Terutama yang kehilangan rumah hingga harus dievakuasi dan para pemadam kebakaran yang berjuang menghentikan api.

Andrew menyatakan, pihaknya akan mengorganisasi bantuan dari komunitas olahraga balap di seluruh dunia untuk memberikan bantuan pada korban dan pemadam kebakaran.  "Prioritas kami adalah melihat apa yang bisa dibantu untuk memberikan dukungan, termasuk dukungan finansial. Kami akan menjadi pusat dari komunitas olahraga balap untuk memberikan bantuan," ujarnya.

Di sisi lain, pembalap F1 tim Mercedes, Lewis Hamilton menyatakan bakal menyumbang 500 ribu dollar AS untuk membantu pemadam kebakaran dan penyelamat hewan yang sedang berjibaku di lokasi karhutla.

Juara dunia F1 enam kali itu mengatakan, dirinya tidak bisa turun langsung membantu para korban. Ia ingin para warga dan hewan yang terdampak dapat segera diselamatkan.

Bersama tim Mercedes, Hamilton baru akan bertolak ke Australia awal Maret mendatang untuk bersiap-siap jelang balapan. Namun melihat bencana yang terjadi, pembalap asal Inggris itu mengaku sedih.

"Ini membuat saya sedih melihat satu miliar hewan mati tanpa jalan keluar. Kecintaan saya pada hewan tidak dapat terbendung lagi karena mereka semakin dekat dengan kepunahan," kata Hamilton seperti dikutip dari Crash.

Melalui akun media sosialnya, Hamilton mengajak seluruh pengikutnya untuk turut membantu para penyintas karhutla di Australia, sekaligus melawan perubahan iklim yang semakin kritis. Ia berharap, semua orang melakukan hal-hal kecil yang dapat memperbaiki keadaan alam. "Saya beruntung sering mengunjungi Australia dan melihat keindahan negara itu. Saya sering berdiskusi dengan pihak yang fokus pada isu-isu iklim dan mendukung mereka," ucapnya.

Hamilton merupakan salah satu bintang yang menyumbangkan dana besar untuk Australia. Sebelumnya, ada atlet kriket asal Australia, Shane Warne, yang mendonasikan 1 juta dolar Australia setelah melelang salah satu pialanya. Pembalap MotoGP, Jack Miller, juga melelang salah satu helmnya dengan nilai 18 ribu dolar AS.

Hingga saat ini, Australia masih dikepung karhutla dengan tingkat suhu yang terus meningkat. Sebanyak 27 orang dikabarkan tewas, tiga di antaranya merupakan pemadam kebakaran.

Lahan seluas 6,3 juta hektare terbakar, menjadikannya tujuh kali lebih besar dari kebakaran di hutan Amazon beberapa waktu lalu. Pemerintah Australia pun terus memperpanjang masa krisis kebakaran hingga waktu yang belum ditentukan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA