Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Persaingan Sengit, Drama, dan Hiburan di Kompetisi IBL 2020

Sabtu 11 Jan 2020 00:27 WIB

Red: Israr Itah

Pemain asing Amartha Hangtuah Laquavious Kashaka Cotton dilanggar saat hendak menerobos pertahanan Satya Wacana Salatiga di kompetisi IBL 2020.

Pemain asing Amartha Hangtuah Laquavious Kashaka Cotton dilanggar saat hendak menerobos pertahanan Satya Wacana Salatiga di kompetisi IBL 2020.

Foto: DOK IBL
IBL membolehkan tim memiliki tiga pemain asing dengan alasan menjaga persaingan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Israr Itah*

Kompetisi bola basket tertinggi di Tanah Air, Indonesian Basketball League (IBL) Pertamax 2020 yang dinanti-nanti akhirnya dimulai pada Jumat (10/1). Dari tiga pertandingan yang digelar di GOR Sahabat, Semarang, tak berlebihan para pecinta basket di Tanah Air mengharapkan tontonan menarik nan menghibur dari persaingan sengit tim-tim basket papan atas lebih dari sebelumnya.

Semua berawal dari keputusan PP Perbasi untuk menggelar pemusatan latihan (TC) timnas basket jangka panjang. Pertama untuk SEA Games 2019, dilanjutkan TC agar bisa lolos dari Kualifikasi FIBA Asia Cup 2021 dan menempati posisi 10 besar turnamen basket akbar Asia ini. Syarat ini dibutuhkan agar Indonesia bisa berpartisipasi di Piala Dunia Basket 2023 di rumah sendiri. Ini masih ditambah pemusatan latihan untuk basket 3x3 yang berlaga di SEA Games 2019.

Keputusan PP Perbasi ini membuat Stapac yang menjadi juara IBL 2019 mundur karena kekurangan pemain. Manajemen Stapac memutuskan absen ambil bagian pada IBL musim ini karena sebagian besar pemainnya pertengahan tahun lalu dipanggil mengikuti TC timnas basket dan beberapa lainnya pensiun. 

Absennya Stapac membuat pelatih Giedrius Zibenas berpindah haluan. Ia menyeberang ke Prawira Bandung untuk menjadi pelatih kepala tim asal kota kembang. Prawira pun makin menggigit dengan kedatangan coach Ghibbi, sapaannya.

Tim lain yang terdampak adalah Satria Muda Pertamina. Selain sejumlah pemain kuncinya dipanggil ke TC timnas basket, coach Youbel Sondakh juga ditarik menjadi asisten pelatih kepala Radjko Toroman. Alhasil manajemen SM Pertamina berburu pelatih baru dan menjatuhkan pilihan kepada Milos Pejic asal Serbia. Untuk pemain, SM Pertamina menarik dua pemain CLS Knights AA Ngurah Wisnu dan Bima Riski Ardiansyah, dan Fadlan Minallah dari Siliwangi. SM Pertamina juga memainkan rookie Rivaldo Tandra Pangesthio.

photo
Menpora Zainudin Amali melambaikan tangan dalam upacara pembukaan IBL 2020 di GOR Sahabat, Semarang, Jumat (10/1).

Klub NSH Jakarta juga merasakan dampak TC jangka panjang timnas. Wahyu Widayat Jati yang musim lalu menjadi pelatih NSH diminta membantu coach Toro, panggilan Toroman, di timnas basket. Alhasil, setelah sempat tanpa pelatih sebelum dipoles Antonius Joko Endratmo, NSH kemudian mengontrak pelatih kepala AF Rinaldo menjelang kompetisi IBL 2020 bergulir. NSH juga kedatangan eks pemain Stapac Widyanta Putra Teja dan Rizky Effendi. Tapi nama terakhir belum sepenuhnya bergabung karena penyembuhan cedera lutut.

Berikutnya kehadiran tim debutan Louvre Surabaya. Klub ini menyita perhatian dengan kampanyenya yang gencar di media sosial mereka dengan sokongan perusahaan jaringan hotel ternama di Tanah Air. Tapi bukan itu yang utama, melainkan pergerakan di perekrutan pemain. Louvre pertama kali menarik Daniel Wenas dari klub Siliwangi Bogor yang mundur dari kompetisi karena masalah dana. Louvre kemudian 'membajak' pelatih Andika Supriadi Saputra dari Amartha Hangtuah. Setelah itu, Louvre mendatangkan Galank Gunawan, raja rebound basket Indonesia dari Bima Perkasa Jogja, menarik point guard senior Wendha Wijaya dari NSH, serta 'memaksa' Dimaz Muharri yang sudah memutuskan pensiun sejak 2015 lalu kembali bermain.

Amartha Hangtuah yang kehilangan Andika ke Louvre mempromosikan Harry Prayogo menjadi pelatih kepala. Baru akan berulang tahun ke-29 pada akhir Februari 2020, coach Harry menjadi pelatih termuda di delapan tim IBL.

Regulasi perekrutan pemain asing pun berubah oleh manajemen IBL yang saat ini dinakhodai Junas Miradiarsyah. Jika pada musim sebelumnya setiap tim hanya diperbolehkan memiliki dua pemain asing, untuk musim 2020, manajemen IBL membolehkan tim memiliki tiga pemain asing dengan alasan menjaga persaingan ketat di kompetisi IBL 2020. Klub diperkirakan tak kompetitif bila melepas pemain-pemain bintangnya ke Timnas. Kehadiran tiga pemain asing membuat klub tetap kuat dan punya daya saing. Selain itu, klub-klub IBL juga bisa memberikan persaingan yang diharapkan sepadan bagi timnas basket yang diputuskan tampil di liga untuk menambah jam bermain untuk bekal berlaga di Kualifikasi FIBA Asia.

photo
GOR Sahabat, Semarang, penuh pada pembukaan kompetisi basket IBL 2020, Jumat (10/1).

Setiap klub diberikan kekuatan tambahan pemain asing dari dua menjadi tiga biar menjaga kompetisi tidak terlalu jomplang. Tapi, hanya dua yang bisa dimainkan bersamaan di lapangan. Aturan ini juga bisa meminimalisasi dampak negatif bila salah satu pemain asing mengalami cedera dalam pertandingan. Setidaknya kekuatan tim tak terlalu pincang jika hanya mengandalkan satu pemain asing di lapangan menghadapi lawan yang punya dua. Sudah terbukti dari dua musim sebelumnya, tim dengan satu pemain asing, karena yang satunya absen karena cedera, kesulitan memberikan perlawanan sepadan.

Masih ada Pelita Jaya Bakrie yang mengganti pelatih dari Fictor Roring ke Ocky Tamtelahitu serta Pacific Caesar Surabaya yang menggunakan jasa David Singleton sebagai juru taktik. Tapi saya tak akan membahas itu karena kedua tim ini belum tampil pada hari pertama.

Laga perdana IBL 2020 dibuka dengan penampilan tim debutan Louvre melawan Bima Perkasa Jogja. Louvre sempat unggul 26-18 pada kuarter pertama, tertinggal 42-49 di kuarter kedua dan hanya unggul tipis 61-60 pada kuarter ketiga. Louvre kemudian sempat melejit pada awal kuarter keempat tapi drama hadir saat mereka kehilangan Galank yang fouled out, disusul Wendha Wijaya yang juga melakukan lima pelanggaran. Tanpa dua pilar lokalnya, Louvre bertahan mati-matian sebelum mendapatkan kemenangan pada debut mereka di IBL dengan skor 81-71.

Sajian seru juga tersaji pada laga kedua saat NSH meladeni finalis musim lalu SM Pertamina. NSH bahkan sempat unggul pada dua kuarter awal dengan 20-18 dan 33-31. Pertarungan berlangsung keras dan sengit yang memakan korban Bima Riski Ardiansyah. Bima menderita patah tulang hidung dan tak akan bermain pada laga SM Pertamina melawan Bima Perkasa Jogja, Ahad (12/1).

Pemain asing andalan SM Pertamina Gary Jacobs juga sempat menderita luka di bagian pipi, tepat di bawah mata kiri. Tapi Gary lebih beruntung bisa menyelesaikan pertandingan. Ia menyumbang 23 poin untuk membawa SM Pertamina menang dengan skor 69-59. Rupanya skuat asuhan Milos Pejic bangkit pada dua kuarter akhir dengan permainan enerjik dan menghibur para penonton di GOR Sahabat. Salah satunya aksi dribel point guard SM Pertamina Christian Gunawan yang mengecoh satu pemain NSH sampai terjatuh di lantai, diakhiri operan tanpa melihat yang berujung slam dunk rekannya. GOR Sahabat dibuat riuh oleh teriakan kagum para penonton.

Terakhir laga Amartha Hangtuah kontra Satya Wacana Salatiga. Ini merupakan duel yang juga menguras emosi. Betapa tidak, Amartha Hangtuah tertinggal hampir sepanjang laga, namun mampu mengejar pada kuarter akhir. Kelly Purwanto dkk bahkan unggul 93-90 pada detik-detik akhir sebelum disamakan menjadi 93-93 oleh Satya Wacana dan memaksa overtime. Di overtime, Amartha Hangtuah lagi-lagi sempat tertinggal sebelum menyelesaikan laga dengan keunggulan 115-109.

Saya percaya persaingan sengit, drama, serta aksi-aksi menghibur dari lapangan basket semacam ini akan terus berlangsung hingga seri terakhir di Yogyakarta pada Maret. Menarik dinanti pula aksi pemain timnas basket Indonesia yang tampil dengan nama Indonesia Patriots. Pecinta basket Indonesia bisa mengira-ngira sampai sejauh mana kira-kura timnas basket kita bisa berbicara di Kualifikasi FIBA Asia dengan penampilan di IBL menggunakan namaIndonesia Patriots. Oh ya, Indonesia Patriots tak akan mengikuti babak play-off andai berada di posisi teratas di seri reguler. Sebab, mereka hanya tampil untuk memberi jam terbang kepada pemain timnas basket. Jadi, tak akan rugi menyaksikan IBL 2020.

*) penulis adalah jurnalis republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA