Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Pakar Sarankan Pemerintah Perbanyak Embung Cegah Banjir

Kamis 09 Jan 2020 13:37 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Pakar lingkungan hidup IPB sarankan pemerintah perbanyak embung untuk cegah banjir. Ilustrasi.

Pakar lingkungan hidup IPB sarankan pemerintah perbanyak embung untuk cegah banjir. Ilustrasi.

Foto: Antara/Adiwinata Solihin
Pakar lingkungan hidup IPB sarankan pemerintah perbanyak embung untuk cegah banjir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar lingkungan hidup dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Suprihatin mengatakan pemerintah perlu memperbanyak embung atau penampungan air. Embung berguna untuk mencegah terjadinya banjir saat musim penghujan tiba.

"Embung merupakan salah satu solusi untuk mengurangi risiko banjir. Karena itu harus dibuat banyak di daerah Bogor, Depok, dan sekitarnya," ujar dia saat dihubungi di Jakarta, Kamis (9/1).

Embung berguna menampung air hujan yang kemudian bisa dialirkan pelan-pelan pada saat kondisi sudah mulai normal. Dengan demikian risiko dampak banjir bisa lebih diminimalisir.

Secara umum, Suprihatin menilai keberadaan embung di daerah Bogor dan Depok belum begitu banyak dan signifikan. Karena itulah saat hujan tiba dengan intensitas tinggi mengakibatkan banjir.

"Pemerintah DKI Jakarta dan Bogor bisa saling bekerja sama untuk membuat lingkungan lebih baik lagi salah satunya memperbanyak embung," ujar penerima Setyalancana Karya Satya X dan XX tersebut.

Selain embung, lulusan Teknik Proses Lingkungan dari Universitas Teknik Clausthal tersebut juga menyarankan agar pemerintah dan masyarakat memperbanyak penanaman tanaman yang bisa mereboisasi dan menyerap air. Apabila embung dan penanaman tanaman tersebut dilakukan, maka diyakini bencana banjir yang sempat melanda wilayah Jabodetabek beberapa waktu lalu bisa diatasi sebelum terjadi.

Menurutnya alih lahan yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat merupakan salah satu penyebab banjir terjadi. Hal itu dikarenakan air tidak lagi memiliki tempat resapan saat musim penghujan tiba.

"Jadi awalnya itu lahan pertanian atau kebun namun kemudian digunakan sebagai jalan dan bangunan sehingga tidak ada lagi resapan air ke dalam tanah," katanya.

Menurutnya semua pihak perlu memperbanyak penanaman tanaman terutama di daerah-daerah jalan air menuju ke sungai. "Pada dasarnya semua tanaman itu bisa digunakan, tergantung mana yang cocok saja di lokasi atau daerah jalan air tadi," tambahnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA