Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Jokowi Ingin Indonesia tak Tergantung Negara Lain

Kamis 09 Jan 2020 13:16 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Nur Aini

Presiden Joko WIdodo (kiri) berjalan bersama Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi (kedua kanan) dan para duta besar seusai mengikuti peresmian pembukaan rapat kerja kepala perwakilan RI dengan Kemenlu di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Presiden Joko WIdodo (kiri) berjalan bersama Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi (kedua kanan) dan para duta besar seusai mengikuti peresmian pembukaan rapat kerja kepala perwakilan RI dengan Kemenlu di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Foto: Antara/Adityawarman
Jokowi minta ekspor barang mentah dikurangi dan diganti setengah jadi atau jadi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin agar Indonesia tak lagi tergantung dengan negara-negara lain baik di sisi ekonomi dan keuangan. Oleh karena itu, Jokowi mengharapkan ekspor barang mentah dikurangi dan diganti dengan ekspor barang dalam bentuk setengah jadi atau barang jadi. 

Baca Juga

"Strategi ini yang sedang kita bangun, strategi bisnis negara, strategi besar bisnis negara ini baru kita proses rancang implementasinya agar betul-betul kita tidak ada ketergantungan dengan negara-negara lain," ujar Jokowi saat meresmikan pembukaan rapat kerja kepala perwakilan RI dengan Kemenlu di Istana Negara, Kamis (9/1). 

Ia mencontohkan pengolahan crude palm oil (CPO) yang dapat diolah menjadi biodiesel B20 hingga B100. Pemerintah saat ini sudah menerapkan program B30 dan implementasi mandatori biodiesel ini juga akan meningkat menjadi B40 dan B50.

Jokowi mengatakan, dengan kemampuan Indonesia untuk memproduksi B50 maka Indonesia akan memiliki posisi tawar yang tinggi. Pelarangan Uni Eropa terhadap minyak sawit Indonesia pun tak akan memberikan pengaruh.

"Kalau kita bisa memproduksi yang namanya B50 posisi tawar kita terhadap semua negaranya akan bisa naik. Uni Eropa mau banned sawit kita, ya kita tenang-tenang saja. Kita pakai sendiri saja, ngapain sih harus ekspor ke sana," kata dia.

Jokowi mengatakan, jika Indonesia mampu mengolah CPO menjadi B50 maka harga sawit pun juga akan semakin meningkat. Ia juga yakin, jika program B50 benar-benar dapat diimplementasikan, maka Indonesia yang akan mengendalikan pasar. 

"Kalau kita sudah masuk ke B50 betul-betul kita bisa, kita yang mengendalikan bukan pasar yang mengendalikan," ujarnya.

Presiden menyampaikan, Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Produksi kepala sawit Indonesia saat ini mencapai 46 juta ton per tahun dan ditargetkan dapat mencapai 100 juta ton. 

"Kalau sekarang masih 4 ton per hektare target kita bisa 7-8 lebih ton per hektare sehingga bisa naik melompat jadi di atas 100 juta ton per tahun," ujar Jokowi. 

Jokowi yakin daya tawar Indonesia akan semakin kuat jika hasil pengolahan CPO tersebut juga digunakan di dalam negeri dalam jumlah yang besar. Pengolahan CPO menjadi biodiesel dinilainya juga akan menekan impor minyak Indonesia yang tinggi. Sehingga, nantinya akan berdampak positif terhadap defisit neraca transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan. 

"Kalau neraca transaksi berjalan kita sudah positif baik saat itulah kita betul-betul baru merdeka. Dengan siapapun kita berani karena tidak ada ketergantungan apapun mengenai sisi keuangan, sisi ekonomi. Itulah target kita dalam 3-4 tahun ke depan," kata Presiden.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA